Sistem Kesehatan di Ujung Tanduk: Dampak Serangan Udara Terhadap Fasilitas Medis Iran

TEHERAN – Serangan udara masif yang melibatkan AS dan Israel berdampak pada lima rumah sakit besar di Iran. Laporan terbaru menunjukkan bahwa sejumlah fasilitas medis di berbagai penjuru Iran mengalami kerusakan signifikan akibat gelombang serangan udara yang dilancarkan oleh kekuatan militer Amerika Serikat dan Israel.

Meski klaim militer sering kali berfokus pada target strategis, realita di lapangan menunjukkan bahwa zona aman bagi warga sipil—khususnya rumah sakit—kini kian menyempit.

Read More

Mengutip laporan dari Al Mayadeen, setidaknya lima rumah sakit utama di Teheran dan kota-kota sekitarnya dilaporkan terdampak oleh guncangan ledakan besar. Salah satu insiden yang paling menyita perhatian terjadi di Rumah Sakit Gandhi, Teheran Utara. Ledakan hebat yang terjadi di dekat fasilitas tersebut dilaporkan merusak unit fertilitas (IVF).

Kondisi mencekam memaksa para tenaga medis melakukan evakuasi darurat terhadap bayi-bayi di unit perawatan intensif serta menyelamatkan embrio yang berada dalam risiko kerusakan permanen akibat terputusnya aliran listrik dan kerusakan fisik bangunan. Pemandangan serupa terlihat di RS Khatam al-Anbiya dan klinik spesialis luka bakar Motahari, di mana pasien harus segera dipindahkan ke area yang lebih aman di tengah kepulan asap yang menyelimuti kota.

Kerusakan infrastruktur kesehatan tidak hanya terbatas di Teheran. Di wilayah selatan, tepatnya di Ahvaz, RS Anak Aboozar juga dilaporkan terkena dampak guncangan. Selain itu, fasilitas medis di wilayah Azerbaijan Timur dan Sistan-Baluchistan turut masuk dalam daftar infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat operasi militer ini.

Pihak Bulan Sabit Merah Iran melalui surat resminya kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah menuntut tindakan tegas dari komunitas internasional. Mereka menekankan bahwa meskipun serangan mungkin tidak ditujukan langsung ke gedung rumah sakit, penggunaan senjata peledak berat di area padat penduduk secara sistematis merusak integritas layanan kesehatan yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Direktur Jenderal Tedros Adhanom Ghebreyesus telah menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi ini. Kerusakan pada fasilitas medis bukan sekadar hilangnya bangunan fisik, melainkan hilangnya harapan bagi ribuan pasien yang bergantung pada perawatan kronis. Ketika sebuah rumah sakit tidak lagi berfungsi, angka kematian akibat penyakit non-perang dipastikan akan melonjak tajam.

Dampak psikologis bagi para penyintas dan tenaga medis juga menjadi catatan kelam dalam konflik ini. Menjalankan operasi atau prosedur penyelamatan nyawa di bawah ancaman bombardir udara menciptakan trauma yang akan membekas lama bagi sistem kesehatan nasional Iran.

Serangan yang berdampak pada fasilitas medis di Iran menjadi pengingat keras bagi dunia tentang mahalnya harga sebuah perang. Infrastruktur kesehatan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan netral kini terseret ke dalam garis depan konflik. Tanpa adanya jaminan perlindungan terhadap fasilitas kemanusiaan, krisis ini bukan hanya akan melumpuhkan militer, tetapi juga melenyapkan sistem pendukung kehidupan bagi warga sipil yang tidak berdosa.

Related posts