Mengapa Tekanan Militer AS-Israel Justru Memperkuat Kedudukan Rezim Iran?

TEHERAN – Eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran belakangan ini memunculkan perdebatan sengit mengenai efektivitas strategi “perubahan rezim” (regime change). Meski tekanan fisik terus meningkat, sejumlah pakar politik menilai bahwa strategi tersebut justru berisiko memperkuat nasionalisme domestik Iran dan memperdalam perlawanan terhadap Barat.

Penunjukan Sayyed Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin Revolusi Islam Sayyed Ali Khamenei, menjadi titik sentral dalam dinamika ini. Langkah tersebut dinilai sebagai pesan tegas dari Teheran bahwa struktur politik Republik Islam tidak akan goyah, bahkan di bawah ancaman perang sekalipun.

Read More

Ketahanan Struktur Politik

Pakar politik Iran, Vali Nasr, dalam analisisnya yang dimuat oleh New York Times, menjelaskan bahwa sistem pemerintahan Iran dirancang unik untuk menghadapi krisis hebat. Kekuasaan di Iran didistribusikan ke berbagai lembaga keagamaan, militer, dan birokrasi, yang memungkinkan negara tetap berfungsi secara efektif meskipun berada dalam tekanan eksternal yang ekstrem.

“Transisi kepemimpinan ini menandakan bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan menanggapi seruan untuk perubahan pemerintahan, meskipun ada kampanye militer AS-Israel yang sedang berlangsung,” tulis Nasr.

Ia menambahkan bahwa alih-alih memicu keruntuhan dari dalam, agresi militer asing justru sering kali memicu solidaritas nasional. Tekanan dari luar cenderung menggeser sentimen publik untuk membela negara, yang pada akhirnya mendorong warga menuju gerakan perlawanan nasional yang lebih luas.

Dilema Pemerintahan Trump

Di Washington, Presiden Donald Trump mulai menghadapi tekanan internal terkait durasi dan dampak ekonomi dari konflik ini. Laporan dari The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para penasihat kepresidenan mulai mengkhawatirkan kenaikan harga minyak dunia dan biaya politik dari perang yang berkepanjangan.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di Florida, Trump sempat memberikan sinyal bahwa operasi militer tersebut mungkin akan segera berakhir. Ia mengklaim bahwa Amerika Serikat telah mencapai kemajuan signifikan.

“Amerika Serikat telah mengalami kemajuan pesat dalam perang tersebut. Operasi ini telah mencapai sebagian besar dari apa yang ingin dicapai,” ujar Trump di hadapan media pada hari Senin lalu.

Risiko Konfrontasi Berkepanjangan

Namun, klaim kemenangan tersebut berbenturan dengan realitas di lapangan. Nasr memperingatkan bahwa jika tujuan akhir Washington adalah memaksakan perubahan rezim hanya melalui tekanan udara atau serangan jarak jauh, maka strategi tersebut kemungkinan besar akan gagal.

Menurut para analis, untuk benar-benar menumbangkan struktur politik Iran yang telah berpengalaman menghadapi sanksi dan konfrontasi regional selama puluhan tahun, dibutuhkan keterlibatan militer yang jauh lebih luas. Hal ini mencakup risiko invasi darat dan pendudukan jangka panjang yang sangat mahal, baik secara finansial maupun politik bagi Amerika Serikat.

Tanpa adanya perubahan strategi diplomasi, konfrontasi ini diprediksi akan berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang justru mengonsolidasi kekuatan elit politik di Teheran.

Related posts