Mengapa Trump Menarik Rem Darurat di Selat Hormuz?

JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menunda ultimatum serangan terhadap fasilitas listrik dan infrastruktur energi Iran.

Meski awalnya memberikan tenggat waktu 48 jam, Trump kini memperpanjang masa tersebut menjadi lima hari dengan alasan adanya “pembahasan produktif” antara kedua negara.

Read More

Pakar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof. Hikmahanto Juwana, menilai penundaan ini bukanlah sekadar diplomasi biasa, melainkan cerminan dari terjepitnya posisi AS di lapangan.

Empat Alasan Krusial di Balik Mundurnya Trump

Menurut Prof. Hikmahanto, ada empat faktor krusial yang memaksa Gedung Putih untuk berpikir ulang sebelum melepaskan tembakan pertama:

1. Ketakutan akan Efek Domino Ekonomi

Pasar saham Wall Street menjadi pertimbangan utama. Serangan ke Iran diprediksi akan memicu aksi balasan terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk, yang berisiko membuat bursa efek AS rontok. Trump tampaknya tidak ingin kebijakan militernya justru menghancurkan ekonomi dalam negerinya sendiri.

2. “Pemberontakan” Halus Sekutu NATO dan Asia

Meski AS meminta bantuan sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz, respon yang diterima justru dingin. Negara-negara NATO, Jepang, dan Korea Selatan menyatakan kesiapan membantu pembersihan ranjau, namun menolak terlibat dalam serangan ofensif.

Mereka memandang konflik ini sebagai “perangnya Trump,” bukan perang pertahanan bersama sesuai Pasal 5 NATO.

3. Kartu As Iran di Selat Hormuz

Iran memegang kendali penuh atas jalur perdagangan global tersebut. Penutupan Selat Hormuz oleh Garda Revolusi Iran terbukti menjadi instrumen tekanan yang sangat efektif untuk memaksa dunia internasional balik menekan Amerika Serikat.

4. Krisis Logistik Militer AS

Secara teknis, kekuatan pemukul AS di kawasan tersebut sedang mengalami penurunan. Terbakarnya kapal induk USS Gerald Ford serta menipisnya stok rudal di pangkalan-pangkalan militer negara Teluk membuat AS tidak dalam kondisi prima untuk memulai perang skala besar.

Israel dalam Ketidakpastian

Analisis ini juga menyoroti posisi sulit yang kini dihadapi Israel. Selama ini, manuver ofensif Tel Aviv terhadap Teheran sangat bergantung pada jaminan perlindungan (backup) dari Washington.

“Jika AS benar-benar menarik diri atau wind down dari konflik ini, Israel akan menghadapi risiko besar untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dengan Iran tanpa kehadiran militer Amerika,” ujar Prof. Hikmahanto.

Di sisi lain, masyarakat Amerika Serikat sendiri mulai mempertanyakan relevansi perang ini. Muncul keraguan apakah kebijakan keras Trump di Timur Tengah benar-benar untuk kepentingan nasional AS atau justru hanya untuk mengamankan agenda politik pihak lain di kawasan tersebut.

Penundaan ultimatum selama lima hari ini menjadi napas buatan bagi stabilitas kawasan, namun sekaligus menunjukkan bahwa diplomasi “otot” Trump mulai menemui jalan buntu akibat keterbatasan logistik dan kurangnya dukungan kolektif dari sekutu global.

Related posts