TEHERAN – Militer Iran dilaporkan telah meningkatkan intensitas operasinya di kawasan Teluk. Pada Kamis (5/3), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan serangan pesawat tak berawak (drone) yang menyasar kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln.
Berdasarkan keterangan dari juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, insiden ini dipicu oleh pergerakan kapal induk tersebut yang mendekati batas laut teritorial Iran di Laut Oman. Drone milik angkatan laut IRGC diklaim berhasil mengenai sasaran saat kapal tersebut berada dalam radius 340 kilometer dari wilayah Iran.
Pasca-ledakan, gugus tempur Amerika dilaporkan segera melakukan manuver mundur. Pihak Teheran menyebutkan bahwa USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal perusaknya kini telah menjauh hingga jarak lebih dari 1.000 kilometer dari area konflik semula.
Perluasan Skala Operasi Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari menegaskan bahwa tindakan ini merupakan bagian dari strategi pertahanan Iran untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai agresi aliansi AS-Israel. Ia menyatakan bahwa militer Iran saat ini tengah menjalankan operasi berskala besar di berbagai level untuk menekan posisi pasukan asing di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, IRGC juga menyoroti perubahan taktik militer mereka yang diklaim telah melampaui prediksi intelijen Barat. Mereka menyatakan terus memantau pergerakan tentara AS, bahkan hingga ke fasilitas-fasilitas sipil di negara-negara tetangga yang menjadi tempat perlindungan sementara bagi personel Amerika.
Blokade Jalur Maritim Selain serangan terhadap kapal induk, ketegangan juga merembet ke sektor perdagangan energi. Pada Kamis dini hari, sebuah kapal tanker minyak milik AS dikabarkan terbakar di bagian utara Teluk setelah menjadi sasaran serangan.
Pihak Iran memberikan peringatan keras bahwa mereka memegang kendali penuh atas navigasi di Selat Hormuz. Sesuai dengan hukum internasional dalam kondisi perang, IRGC menegaskan tidak akan mengizinkan kapal militer maupun komersial dari Amerika Serikat, Eropa, dan Israel melewati jalur strategis tersebut jika dianggap melanggar aturan atau mengancam keamanan nasional mereka.





