JAKARTA – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini memasuki fase krusial. Dalam diskusi di program Apa Kabar Indonesia Malam tvOne, sejumlah pakar menilai bahwa serangan yang dilancarkan AS dan Israel ke wilayah Iran didasari oleh “salah perhitungan” strategis, terutama terkait ketahanan nasionalisme dan sistem kepemimpinan Iran.
Strategi Perang Asimetris Iran
Pengamat Intelijen, Stepi Andriani, menyoroti perubahan taktik Iran dalam menghadapi gempuran. Menurutnya, Iran sengaja memainkan tensi dengan menurunkan gelombang serangan untuk memancing lawan ke dalam “perang asimetris”.
“Iran memilih perang asimetris. Kalau perang simetris melawan superpower seperti AS, mungkin dalam empat minggu Iran bisa kalah. Tapi dalam perang asimetris, Iran punya kesempatan untuk minimal tidak kalah,” ujar Stepi.
Ia juga menambahkan bahwa dukungan domestik di AS sendiri sangat rendah, di mana hanya 27% rakyat AS yang setuju dengan perang ini, berbanding terbalik dengan nasionalisme rakyat Iran yang sangat solid di bawah kepemimpinan Ayatullah Khamenei.
Kekuatan “DNA” dan Nasionalisme Iran
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menekankan bahwa AS dan Israel gagal memahami struktur kepemimpinan di Iran. Ia menjelaskan bahwa pemimpin tertinggi Iran dipilih melalui proses meritokratik yang sangat ketat, sehingga rakyat memandang mereka sebagai orang tua dan panutan suci.
“Sungguh salah Amerika Serikat dan Israel menargetkan pemimpin besar di Iran, karena yang menangis adalah seluruh bangsa dan otomatis mereka akan bersatu. Rakyat akan berkata ‘apa kata pemimpin kami, kami ikut’. Ini adalah energi yang fantastis yang tidak bisa dihitung secara matematik,” tegas Teuku Rezasyah.
Kepentingan Hegemoni dan Kegagalan Intelijen
Pengamat Timur Tengah, Smith Alhadar, menilai konflik ini adalah hasil konvergensi kepentingan antara AS dan Israel. Israel ingin menjadi hegemon utama di wilayah tersebut, namun hal itu mustahil tercapai selama rezim Iran masih eksis. Smith menyebut tindakan AS yang berkomplot dengan Netanyahu sebagai langkah yang “bodoh” karena kegagalan intelijen dalam membaca mekanisme pertahanan Iran.
“Serangan ini memperlihatkan bahwa intelijen Israel, AS, dan para pakarnya tidak mampu membaca mekanisme kepemimpinan di Iran. Mereka pikir dalam tiga hari (rezim) akan tumbang, tapi di Iran sumber kekuasaan itu menyebar ke berbagai lembaga,” kata Smith Alhadar.
Dampak bagi Perjuangan Palestina
Dari sisi aktivis, Muhammad Husein yang tersambung melalui virtual, menyampaikan bahwa warga Palestina merasa mendapat suntikan mentalitas melihat Iran berani mengeluarkan kapasitas teknologi militer dan intelijennya untuk melawan AS dan Israel.
“Warga Palestina sekarang sedang menikmati pemandangan ini. Meskipun sedikit terlambat, namun jika kekuatan ini keluar saat pejuang Gaza masih di puncak kekuatan, Israel mungkin sudah kolaps,” ungkap Husein.
Hingga saat ini, konflik masih terus dipantau secara internasional, dengan keterlibatan data intelijen dari Rusia yang dikabarkan mulai membantu pihak Iran dalam memetakan pergerakan lawan.





