Iran Siap Sambut Invasi Darat, Analis: Amerika Serikat Terancam Rugi Besar

JAKARTA – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini memasuki fase yang sangat krusial, di mana ketahanan logistik dan strategi militer kedua belah pihak menjadi penentu arah peperangan. Meski serangan udara telah mengakibatkan kerusakan masif pada sekitar 3.000 bangunan dan belasan fasilitas medis di wilayah Iran, para analis memperingatkan bahwa kekuatan militer Teheran jauh dari kata lumpuh.

Analis Kajian Stratejik Intelijen Ridwan Habib memaparkan bahwa meskipun kapasitas logistik Iran secara statistik menurun drastis hingga tersisa sekitar 30 persen atau sekitar 300 peluncur rudal dari kondisi normal, mereka diprediksi masih mampu mempertahankan perlawanan hingga enam bulan ke depan.

Read More

Ridwan Habib menjelaskan bahwa situasi ini menempatkan Presiden Donald Trump pada posisi dilematis yang ia sebut sebagai zero sum game. Trump dihadapkan pada pilihan sulit, mulai dari mengumumkan kemenangan sepihak yang berisiko memicu kecaman domestik karena rezim anti-Amerika di Iran tetap berdiri tegak, hingga opsi melakukan perang darat menggunakan pasukan khusus.

Menurut Ridwan, opsi perang darat justru merupakan kondisi yang sangat dinantikan oleh Iran karena mereka dapat menerapkan taktik gerilya menggunakan infanteri dan senjata tradisional yang akan sangat merugikan ekonomi serta dukungan politik Trump di Kongres Amerika.

Di sisi lain, Iran juga dikenal sebagai pembelajar cepat dalam menghadapi gempuran teknologi tinggi. Setelah serangan pesawat siluman B2 pada Juni 2025, militer Iran segera memindahkan berbagai aset persenjataan canggih mereka ke dalam bunker-bunker di pegunungan dan gurun yang sulit dideteksi.

Salah satu ancaman utama yang diwaspadai adalah rudal balistik Khorramshahr-4 yang memiliki kecepatan hingga 10 Mach. Ridwan menekankan bahwa jika rudal ini diluncurkan dari Isfahan, senjata tersebut hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk mencapai Tel Aviv, sebuah fakta yang memicu kekhawatiran besar bagi warga sipil dan stabilitas di kawasan tersebut.

Terkait sikap sekutu utama Iran seperti Tiongkok dan Rusia yang terkesan menjaga jarak, Ridwan menilai hal ini merupakan bagian dari gentleman agreement antarkekuatan besar. Tiongkok sangat berhati-hati karena memiliki kepentingan strategis di Taiwan, sementara Rusia masih terfokus pada konflik di Ukraina.

Keterlibatan langsung secara demonstratif dari kedua negara tersebut diyakini akan memicu balasan serupa dari Amerika Serikat terhadap kepentingan nasional mereka masing-masing, sehingga untuk saat ini mereka memilih untuk tetap menahan diri sembari memantau perkembangan di Teluk.

Related posts