TEHERAN – Krisis kemanusiaan yang mendalam tengah melanda Iran menyusul rangkaian serangan udara masif yang melibatkan kekuatan Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan laporan terbaru dari Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, agresi ini telah merenggut sedikitnya 1.255 nyawa warga sipil. Angka kematian ini mencakup realitas yang memilukan dengan gugurnya 200 anak-anak serta 11 tenaga medis yang sedang bertugas.
Para korban diketahui memiliki rentang usia yang sangat kontras, mulai dari bayi berusia delapan bulan hingga lansia berumur 88 tahun, yang sebagian besar sedang berada di rumah atau tempat kerja mereka saat pemboman terjadi.
Selain korban jiwa, serangan ini juga melumpuhkan sistem penyangga kehidupan di berbagai wilayah. Tercatat lebih dari 12.000 orang menderita luka-luka serius, terutama akibat luka bakar parah dan cedera trauma akibat reruntuhan bangunan.
Infrastruktur kesehatan pun tidak luput dari kehancuran, di mana puluhan pusat medis, klinik, dan lokasi layanan darurat dilaporkan rusak berat hingga terpaksa berhenti beroperasi.
Bahkan, belasan unit ambulans yang menjadi garda terdepan penyelamatan turut hancur dalam gempuran tersebut, memperburuk akses warga terhadap pertolongan pertama.
Dampak dari serangan ini kini meluas menjadi ancaman ekologis yang mengkhawatirkan bagi penduduk ibu kota. Penargetan fasilitas penyimpanan minyak di wilayah Aghdasieh, Shahran, serta kilang minyak Teheran telah memicu kebakaran hebat yang menyemburkan asap hitam pekat ke langit.
Fenomena “langit gelap” ini diperkirakan akan memicu hujan asam yang dapat merusak kualitas tanah dalam jangka panjang.
Otoritas kesehatan telah mengeluarkan peringatan keras bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, untuk tetap berada di dalam ruangan guna menghindari risiko gangguan pernapasan akut akibat polutan beracun yang menyebar.
Secara hukum internasional, tindakan yang menyasar infrastruktur sipil dan menyebabkan kerugian besar pada penduduk non-militer dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa.
Meskipun pihak penyerang mengeklaim sasaran mereka adalah fasilitas bahan bakar untuk militer, fakta di lapangan menunjukkan bahwa lebih dari 200 kota telah terkena dampak ledakan sejak akhir Februari.
Hingga saat ini, situasi di kota-kota besar seperti Teheran dan Qom masih mencekam seiring dengan laporan ledakan yang terus berlanjut, menyisakan trauma mendalam bagi warga sipil yang terjebak di tengah konflik.





