TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan fase serangan udara paling masif sejak pecahnya konfrontasi pada akhir Februari lalu.
Operasi yang berlangsung selama lebih dari tiga jam pada Selasa malam ini menandai gelombang serangan ke-37, yang secara spesifik dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara lawan melalui pola serangan berlapis yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Dalam operasi berskala besar ini, militer Iran mengerahkan armada rudal berat “Khorramshahr” dalam jumlah terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah militer mereka.
Serangan ini tidak hanya menargetkan infrastruktur militer di wilayah pendudukan, tetapi juga menyasar instalasi strategis Amerika Serikat di berbagai titik regional.
Fokus utama gempuran kali ini tertuju pada pusat komunikasi satelit Ha’ela di selatan Tel Aviv yang terkena dampak untuk kedua kalinya, serta sejumlah fasilitas militer di Haifa, Be’er Ya’akov, dan wilayah Al-Quds bagian barat.
Selain wilayah pendudukan, jangkauan operasi ini meluas hingga ke pangkalan-pangkalan Amerika di Erbil dan pangkalan Angkatan Laut Kelima.
Teheran menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons langsung dan terencana atas kampanye militer skala besar yang sebelumnya diluncurkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, yang mengakibatkan gugurnya kepemimpinan tertinggi Iran serta hancurnya berbagai fasilitas sipil dan militer di seluruh negeri.
Pernyataan resmi dari otoritas militer Iran menggarisbawahi bahwa operasi ini didedikasikan sebagai penghormatan bagi mendiang Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, dan para komandan senior yang menjadi korban dalam serangan awal konflik.
Narasi yang dibangun oleh Teheran kini bergeser dari sekadar pertahanan menjadi upaya untuk memaksa lawan menyerah sepenuhnya.
Pihak IRGC menegaskan bahwa mereka tidak akan menghentikan tekanan militer ini sampai bayang-bayang ancaman perang benar-benar hilang dari kedaulatan Iran.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa perang asimetris ini telah bertransformasi menjadi konfrontasi terbuka dengan intensitas tinggi.
Dengan hancurnya berbagai infrastruktur vital di kedua belah pihak dan meningkatnya jumlah korban, dunia internasional kini menyoroti sejauh mana eskalasi ini akan terus berlanjut.
Bagi Iran, gempuran terbaru ini merupakan pesan jelas bahwa kemampuan ofensif mereka tetap solid meskipun kehilangan figur-figur kunci dalam hierarki kepemimpinan nasional.





