LEBANON – Eskalasi militer di perbatasan Lebanon-Palestina memasuki babak baru pada Kamis pagi setelah kelompok perlawanan Hizbullah meluncurkan rangkaian operasi udara dan darat berskala besar.
Di bawah sandi operasi “Devoured Straw”, serangan ini tidak hanya menyasar garis depan, tetapi juga menghantam fasilitas militer strategis yang terletak jauh di dalam wilayah pendudukan, termasuk pusat komando intelijen dan pemantauan udara utama.
Dalam manuver yang terkoordinasi, para pejuang Hizbullah membidik titik-titik krusial yang menjadi tumpuan operasional militer Israel.
Salah satu target utama adalah pangkalan Glilot di dekat Tel Aviv, yang merupakan markas besar Unit Intelijen 8200. Selain itu, pangkalan udara Meron yang bertanggung jawab atas pengelolaan operasi udara di wilayah utara turut menjadi sasaran gempuran drone.
Laporan dari pihak perlawanan mengonfirmasi bahwa serangan pesawat tak berawak tersebut berhasil merusak salah satu sistem radar utama di pangkalan Meron, yang berpotensi mengganggu kemampuan pengawasan udara di kawasan tersebut.
Intensitas serangan juga dirasakan di wilayah pemukiman Nahariya, di mana gelombang roket dan drone penyerang dilaporkan menghantam wilayah tersebut secara bertubi-tubi sejak dini hari.
Di saat yang bersamaan, rentetan rudal presisi diarahkan ke pangkalan Beit Lid yang berfungsi sebagai pusat pelatihan bagi Brigade Nahal dan Brigade Pasukan Terjun Payung.
Langkah ini menunjukkan kemampuan taktis Hizbullah dalam mengintegrasikan berbagai jenis persenjataan untuk menekan infrastruktur militer lawan dari berbagai lini.
Di sepanjang perbatasan darat, ketegangan tidak kalah hebat. Barak Ya’ra dan lokasi militer Markaba yang baru didirikan menjadi target serangan artileri dan drone, sementara upaya pasukan pendudukan untuk merangsek masuk ke wilayah Lebanon terus mendapatkan perlawanan sengit.
Hizbullah menegaskan bahwa rangkaian operasi ini merupakan bagian dari upaya mempertahankan kedaulatan kota-kota perbatasan sekaligus pembalasan atas agresi yang terus berlangsung terhadap warga sipil Lebanon.
Keberhasilan menembus kedalaman wilayah hingga 110 kilometer dari perbatasan menandakan pergeseran signifikan dalam jangkauan tempur perlawanan Islam di Lebanon.
Dengan lumpuhnya sejumlah perangkat radar dan pusat intelijen, konfrontasi ini diprediksi akan semakin kompleks, mengingat ketergantungan militer lawan pada teknologi pemantauan yang kini menjadi fokus utama penghancuran oleh pihak Hizbullah.





