Inggris Hanya Kirim Delapan Pelaut ke Selat Hormuz di Tengah Tekanan Trump

LONDON – Menanggapi seruan mendesak Presiden AS Donald Trump agar NATO dan pasukan sekutu membantu membuka kembali Selat Hormuz, Inggris menunjukkan sikap yang sangat berhati-hati.

Alih-alih mengirimkan armada tempur besar, London hanya mengerahkan tim kecil yang terdiri dari delapan pelaut ke wilayah tersebut. Langkah ini dipandang luas sebagai sinyal keengganan Inggris untuk terlibat lebih jauh dalam konflik yang dipicu oleh Washington di Asia Barat.

Read More

Tim kecil dari Kelompok Eksploitasi Ranjau dan Ancaman Angkatan Laut Kerajaan (MTXG) tersebut dikerahkan dari Portsmouth menuju Bahrain.

Meski dilengkapi dengan teknologi perburuan ranjau otonom dan kendaraan bawah air seperti SeaFox, skuadron ini dilaporkan belum pernah diuji dalam kondisi perang yang sesungguhnya.

Minimnya jumlah personel yang dikirimkan kontras dengan tuntutan terbuka Trump melalui media sosial yang mendesak negara-negara sekutu untuk bergabung dalam armada global guna memecah blokade di jalur air vital tersebut.

Keterlibatan minimal Inggris ini tidak lepas dari kondisi internal Angkatan Laut Kerajaan yang kini memiliki pilihan aset terbatas.

Saat ini, aset berat seperti HMS Somerset dan HMS Duncan masih terikat pada jadwal pemeliharaan serta tugas strategis lainnya, sehingga London tidak memiliki kapal tempur yang siap dikerahkan secara instan ke Teluk.

Pengiriman kapal tambahan diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu, sebuah durasi yang dinilai tidak mampu memenuhi ekspektasi cepat dari Gedung Putih.

Meskipun Wakil Laksamana Steve Moorhouse menegaskan bahwa teknologi perburuan ranjau Inggris adalah yang terdepan di dunia, ia mengakui adanya ketidakpastian mengenai kesiapan operasional tim tersebut dalam menghadapi lingkungan dengan ancaman tinggi.

Penggunaan drone tak berawak di bawah program SWEEP memang dapat mengurangi risiko bagi personel, namun teknologi ini dianggap bukan pengganti yang sepadan bagi kehadiran fisik angkatan laut secara penuh di tengah ketegangan yang meningkat dengan militer Iran.

Related posts