JAKARTA – Langkah Amerika Serikat membuka sayembara senilai 10 juta dolar AS (sekitar Rp169 miliar) untuk informasi terkait tokoh kunci Iran, termasuk Mojtaba Khamenei, dinilai oleh para pakar bukan sekadar upaya pengejaran hukum, melainkan strategi intelijen untuk memecah belah negara tersebut dari dalam.
Namun, analisis dari pakar pertahanan dan intelijen menunjukkan bahwa strategi ini menghadapi jalan buntu karena struktur internal Iran yang unik.
Kegagalan “Jakarta Method” di Era Modern
Koni Rahakundini Bakri, Guru Besar Hubungan Internasional dari Universitas St. Petersburg, menilai bahwa AS sedang mencoba menjalankan kembali Jakarta Method sebuah taktik era Perang Dingin untuk memprovokasi perpecahan antara rakyat dan pemerintah.
Menurut Koni, sayembara ini adalah “bujukan” untuk memunculkan bibit pengkhianat di internal Iran agar membocorkan informasi demi uang. Namun, ia menegaskan bahwa strategi ini gagal karena sistem Iran bersifat hibrid.
Legitimasi negara berasal dari ulama, sementara kekuatan nyatanya dijaga ketat oleh Garda Revolusi (IRGC). Kematian pemimpin-pemimpin mereka justru seringkali menjadi katalisator yang memperkuat solidaritas masyarakat melawan tekanan luar, bukan melemahkannya.
Doktrin Perang Jafari: Pertahanan Tanpa Komando Pusat
Dari perspektif intelijen teknis, Ridwan Habib, Direktur Indonesia Intelligence Institute, menjelaskan mengapa pembunuhan tokoh kunci atau sayembara tidak akan meruntuhkan rezim Iran. Iran menerapkan apa yang disebut dengan Doktrin Perang Jafari atau Mosaic Defense.
Dalam doktrin ini, pertahanan dibagi menjadi 31 divisi mandiri di mana setiap divisi memiliki kewenangan untuk melakukan serangan balik (seperti peluncuran rudal bawah tanah atau drone) secara otonom tanpa harus menunggu perintah dari Teheran.
Hal ini membuat serangan udara Israel atau AS menjadi kurang efektif karena luas wilayah Iran yang mencapai 80 kali lipat luas Israel. Ridwan menekankan bahwa sistem Iran memiliki banyak lapisan (layers). Jika satu pemimpin gugur, sistem regenerasi telah menyiapkan pengganti dari generasi muda yang bahkan lebih keras (hardliner).
Eskalasi ke Level “Strategic Confrontation”
Koni Rahakundini Bakri memperingatkan bahwa konflik ini telah bergeser dari perang bayangan (shadow war) atau perang proksi ke Eskalasi Level 2 atau Strategic Escalation. Di titik ini, terjadi pertukaran misil secara langsung (direct missile exchange) antar-negara secara masif.
Koni juga menggarisbawahi posisi Rusia sebagai faktor penentu. Sebagai mitra strategis militer dan geopolitik, Rusia tidak akan membiarkan Iran runtuh karena Iran adalah blok penting “anti-hegemoni Barat”. Hal ini menjadikan posisi Iran di atas kertas sangat sulit ditembus oleh strategi intelijen konvensional seperti pemberian hadiah uang (bounty).
Analisis kedua pakar menyiratkan bahwa sayembara jutaan dolar tersebut kemungkinan besar tidak akan mengubah peta kekuatan di Iran.
Dengan doktrin militer Mosaic Defense yang dipaparkan Ridwan Habib dan dukungan geopolitik Rusia yang dijelaskan Koni Rahakundini, Iran tetap menjadi entitas yang sulit diguncang dari dalam meskipun pimpinan puncaknya terus menjadi target operasi intelijen Barat.





