WASHINGTON – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) telah mengajukan permohonan dana tambahan yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada Gedung Putih, yakni lebih dari 200 miliar dolar.
Dana raksasa ini dipersiapkan untuk mendukung kelangsungan perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, terutama guna mengisi kembali persediaan amunisi kritis yang terkuras cepat dalam tiga minggu terakhir.
Agresi militer gabungan ini dilaporkan telah menelan biaya lebih dari 11 miliar dolar hanya pada minggu pertama operasinya. Wakil Menteri Pertahanan, Steven Feinberg, kini memimpin upaya untuk merumuskan paket pendanaan yang berfokus pada percepatan produksi industri pertahanan domestik.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa kendala pada basis industri, seperti keterbatasan tenaga kerja, fasilitas produksi, dan ketersediaan bahan baku material penting, dapat menghambat laju pengisian stok persenjataan terlepas dari besarnya anggaran yang dikucurkan.
Permintaan dana tambahan ini diprediksi akan memicu perdebatan sengit di Kongres. Meskipun Partai Republik memberikan dukungan tentatif, mereka belum merumuskan strategi legislatif yang jelas untuk mencapai ambang batas 60 suara di Senat.
Di sisi lain, faksi Demokrat telah menyuarakan kritik tajam terhadap pengeluaran militer yang dianggap tidak terkendali ini, terutama di tengah skeptisisme publik Amerika yang mulai jenuh dengan keterlibatan negara dalam konflik luar negeri yang berkepanjangan.
Situasi politik semakin kompleks mengingat Presiden Donald Trump sebelumnya telah mengusulkan anggaran pertahanan reguler sebesar 1,5 triliun dolar, naik 50 persen dari tahun sebelumnya.
Penambahan klaim 200 miliar dolar ini dianggap oleh banyak analis sebagai ujian bagi kesiapan publik dan anggota dewan dalam mendanai perang yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.
Senator Tom Cotton, ketua Komite Intelijen Senat, bahkan terus mendorong agar alokasi tambahan bagi komunitas intelijen juga dimasukkan dalam paket akhir tersebut.
Mantan pengawas keuangan Pentagon, Elaine McCusker, menekankan bahwa menyuntikkan dana besar ke industri pertahanan tidak secara otomatis mempercepat hasil produksi.
Tantangan utama saat ini adalah kemacetan pada rantai pasok dan kendala material untuk memproduksi amunisi paling canggih dan presisi. Mark Cancian dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) menilai bahwa permintaan dana ini akan menjadi fokus utama bagi sentimen anti-perang di Amerika Serikat.
Besarnya biaya logistik dan tuntutan militer untuk mempertahankan serangan terhadap Iran menempatkan beban keuangan yang luar biasa pada anggaran nasional.
Ketidakpastian mengenai persetujuan Kongres mencerminkan adanya tekanan finansial yang masif dan keraguan domestik mengenai keberlanjutan kampanye militer yang sangat mahal ini dalam jangka panjang.





