TEHERAN – Dalam eskalasi terbaru di Timur Tengah, peta kekuatan diplomasi global tampaknya sedang bergeser dari kekuatan militer murni menuju perang atrisi ekonomi.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukan sekadar taktik pertahanan, melainkan serangan balik strategis yang menggunakan bahasa yang paling dipahami oleh Presiden AS Donald Trump: sentimen pasar.
1. Perlawanan Asimetris Menyerang Titik Lemah Trump
Nicholas Moulder, pakar sanksi dari Cornell University, menyoroti bahwa Iran sedang melakukan perlawanan asimetris. Jika AS dan Israel menggunakan keunggulan udara, Iran menggunakan kendali atas jalur logistik global.
Dengan memblokade 20% pasokan minyak dunia, Iran tidak hanya mengincar militer AS, tetapi langsung menyerang stabilitas pasar saham dan obligasi Amerika.
Moulder mencatat bahwa pemerintahan Trump sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi yang dapat memicu inflasi domestik dan kemarahan basis pemilihnya.
2. AS Terpaksa Melonggarkan Aturan Sendiri
Salah satu poin paling menarik dalam analisis ini adalah pengakuan bahwa AS kini berada dalam posisi terjepit. Untuk meredam “kejutan energi” (energy shock) akibat ulah Iran, Washington secara diam-diam mulai melonggarkan sanksi terhadap armada bayangan (shadow fleet) Iran dan Rusia yang sudah berada di laut.
Ini menunjukkan adanya batas toleransi ekonomi bagi Amerika Serikat. Demi menjaga harga bensin di tingkat konsumen tetap stabil, Washington terpaksa membiarkan minyak dari musuh-musuhnya tetap mengalir, sebuah langkah yang secara strategis melemahkan taring sanksi itu sendiri.
3. Kegagalan Monopoli Ekonomi Barat
Era di mana AS memegang kendali tunggal atas sanksi ekonomi tampaknya mulai berakhir. Analisis ini mengungkapkan tiga pola baru dalam konflik ekonomi modern:
-
Balasan yang Setara: Negara-negara seperti China (melalui kendali ekspor tanah jarang) dan Iran (melalui energi) telah menunjukkan bahwa mereka memiliki instrumen untuk membalas tekanan ekonomi Barat.
-
Aliansi Negara Terasing: Sanksi yang agresif justru mendorong Rusia, China, Iran, Venezuela, dan Korea Utara untuk membentuk blok ekonomi baru yang saling mendukung, mengurangi efektivitas isolasi AS.
-
Ketahanan Melalui Perlawanan: Data menunjukkan negara yang memilih melakukan tawar-menawar cepat dengan Trump (seperti Uni Eropa) justru sering kali mendapat tuntutan tambahan, sementara negara yang bertahan (seperti India dan China) cenderung lebih stabil.
4. Jalur Diplomasi yang Terputus
Moulder menyimpulkan bahwa sanksi hanya efektif jika disertai dengan kredibilitas diplomasi. Masalah utama saat ini bukanlah kurangnya sanksi, melainkan hilangnya kepercayaan bahwa AS akan benar-benar memberikan keringanan jika kesepakatan tercapai.
Tanpa adanya “pintu keluar” yang jelas, Iran dan sekutunya kemungkinan besar akan terus mengeritkan gigi dan menggunakan gangguan ekonomi global sebagai perisai terakhir mereka.
Dunia kini menyaksikan “Perang Sanksi” di mana pemenangnya bukan lagi yang memiliki senjata paling banyak, melainkan siapa yang memiliki daya tahan paling tinggi terhadap rasa sakit ekonomi.





