TEHERAN – Situasi di Timur Tengah berada di titik nadir setelah militer Israel dan Amerika Serikat meluncurkan serangan udara terkoordinasi ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026). Operasi militer berskala besar ini menandai babak baru konfrontasi terbuka yang mengancam stabilitas kawasan secara menyeluruh.
Target Utama dan Jalannya Serangan Berdasarkan informasi yang dihimpun, serangan yang dijuluki “Operation Roaring Lion” oleh Israel dan “Operation Epic Fury” oleh Washington ini menyasar sejumlah titik strategis di tujuh kota besar Iran, termasuk Teheran. Laporan menyebutkan bahwa rudal-rudal tersebut menargetkan fasilitas nuklir, pangkalan rudal balistik, serta pusat komando Garda Revolusi Iran (IRGC).
Bahkan, otoritas Israel mengonfirmasi bahwa target utama dari serangan ini adalah para petinggi rezim, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Meski kantor berita Iran, Tasnim, menyatakan Presiden Pezeshkian dalam kondisi selamat, keberadaan Khamenei sempat menjadi teka-teki sebelum akhirnya dilaporkan telah dipindahkan ke lokasi yang aman di luar ibu kota.
Motivasi di Balik Serangan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa aksi militer ini merupakan langkah preventif guna melenyapkan ancaman permanen dari Teheran. Ketegangan ini dipicu oleh kebuntuan diplomasi nuklir yang berkepanjangan serta peningkatan kekuatan militer Iran yang dianggap membahayakan eksistensi Israel dan kepentingan AS di Teluk.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa tujuan operasi ini bukan sekadar penghancuran militer, melainkan upaya mendorong perubahan rezim yang telah berkuasa sejak Revolusi 1979. Trump menyerukan rakyat Iran untuk mengambil alih kendali pemerintahan di tengah gempuran terhadap industri rudal dan angkatan laut negara tersebut.
Dampak dan Reaksi Internasional Serangan ini memicu respons berantai di kawasan. Iran segera membalas dengan meluncurkan rudal ke pangkalan-pangkalan militer AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab. Akibatnya, wilayah udara di beberapa negara Teluk ditutup total dan jadwal penerbangan internasional dialihkan.
Dunia internasional bereaksi dengan kecemasan tinggi:
-
Malaysia: Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyerukan gencatan senjata tanpa syarat dan memperingatkan bahwa dunia sedang berada di ambang bencana besar.
-
Rusia: Mengecam keras tindakan AS dan Israel, serta mendesak warganya untuk segera meninggalkan wilayah konflik guna menghindari dampak yang lebih fatal.
-
Indonesia: Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk menjadi mediator guna memfasilitasi dialog dan meredam ketegangan.
Hingga saat ini, kondisi di Teheran dan sekitarnya dilaporkan masih mencekam dengan kepulan asap yang menyelimuti pusat kota. Masyarakat internasional terus memantau apakah eskalasi ini akan berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.





