AS Ancam Lumpuhkan Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru pada Senin (23/03/2026) setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman untuk “melenyapkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.

Ancaman ini segera dibalas oleh komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, yang menyatakan kesiapan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi milik Amerika Serikat serta sekutunya di kawasan tersebut.

Read More

Ultimatum Trump muncul di tengah tekanan domestik akibat melonjaknya harga minyak global. Melalui unggahan di media sosial, Trump menegaskan bahwa AS akan menghancurkan berbagai pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, jika jalur pelayaran vital tersebut tetap ditutup.

Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi energi dunia yang saat ini efektif terhenti akibat eskalasi konflik yang memasuki minggu keempat.

Rudal Iran Tembus Pertahanan Nuklir Israel

Eskalasi kata-kata ini dibarengi dengan perkembangan militer yang mengkhawatirkan di lapangan. Pada Sabtu malam, rudal Iran berhasil menghantam kota Dimona dan Arad di Israel selatan wilayah yang sangat dekat dengan pusat penelitian nuklir utama Israel.

Militer Israel mengakui kegagalan sistem pertahanan udara dalam mencegat rudal-rudal tersebut, yang menandai pertama kalinya proyektil Iran mampu menembus perlindungan di area sensitif tersebut.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut keberhasilan ini sebagai tanda dimulainya “fase baru pertempuran.” Serangan di Arad dilaporkan menghancurkan setidaknya sepuluh gedung apartemen dan melukai sedikitnya 64 orang.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggambarkan situasi tersebut sebagai “malam yang sangat sulit” bagi Israel, sementara tim penyelamat terus bekerja ekstra keras di lokasi reruntuhan.

Serangan Diego Garcia dan Krisis Energi

Konflik ini kini meluas jauh ke luar perbatasan Timur Tengah. Iran dilaporkan menargetkan pangkalan militer gabungan Inggris-AS, Diego Garcia, di Samudra Hindia yang berjarak sekitar 4.000 kilometer dari Teheran.

Pengamat militer menilai serangan ini menunjukkan Iran kemungkinan telah menggunakan teknologi kendaraan peluncur luar angkasa untuk mengubah rudal jarak menengah menjadi rudal balistik antarbenua (ICBM).

Dampak ekonomi perang ini telah memicu krisis pangan dan bahan bakar global. Meskipun pemerintahan Trump sempat mengumumkan pencabutan sanksi sementara terhadap minyak Iran guna menekan harga,

Kementerian Perminyakan Iran menyatakan bahwa mereka tidak memiliki cadangan minyak mentah yang tersisa di penyimpanan terapung untuk segera dialirkan ke pasar.

Di sisi lain, jumlah korban jiwa terus meningkat tajam. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 1.500 orang tewas sejak awal perang pada 28 Februari.

Sementara itu, militer Israel terus melakukan operasi darat “tertarget” di Lebanon selatan, yang memicu bentrokan sengit dengan pejuang Hizbullah di desa Khiam.

Pemerintah Lebanon mencatat lebih dari 1.000 orang tewas dan satu juta warga sipil terpaksa mengungsi akibat serangan Israel yang menargetkan infrastruktur Hizbullah.

Situasi di kawasan kini berada pada jalur yang sangat berbahaya, dengan Amerika Serikat yang terus menambah kekuatan militernya termasuk pengerahan tiga kapal serbu amfibi dan 2.500 Marinir tambahan guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz dari ancaman rudal jelajah anti-kapal Iran.

Related posts