AS-Israel Langgar Norma Kemanusiaan, Gempur Institut Pasteur Iran dalam Serangan Udara Masif

TEHERAN –  Eskalasi serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran mencapai titik kritis baru dengan menargetkan fasilitas kesehatan dan penelitian medis.

Salah satu target utama dalam serangan masif pada Kamis (2/4/2026) adalah Institut Pasteur Iran, sebuah pusat penelitian kesehatan publik tertua dan paling bergengsi di Timur Tengah.

Read More

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengutuk keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan.” Melalui unggahan di media sosial X, Pezeshkian yang juga merupakan seorang ahli bedah jantung mempertanyakan motif di balik penghancuran fasilitas yang didedikasikan untuk menyelamatkan nyawa.

“Apa pesan yang ingin disampaikan dengan menyerang rumah sakit, perusahaan farmasi, dan Institut Pasteur sebagai pusat penelitian medis?” tulisnya.

Ia juga mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Palang Merah, dan Doctors Without Borders (MSF) untuk segera merespons pelanggaran norma internasional ini.

Profil Target: Institut Pasteur Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menjelaskan bahwa Institut Pasteur Iran didirikan pada tahun 1920 melalui kerja sama dengan Institut Pasteur Paris. Selama lebih dari satu abad, lembaga ini telah menjadi garda terdepan dalam:

  • Penelitian Penyakit Menular: Menangani penyakit endemis seperti cacar dan kolera.

  • Produksi Vaksin: Memproduksi vaksin tetanus, hepatitis B, dan campak untuk program imunisasi nasional.

  • Kerja Sama Global: Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi bahwa dua departemen di lembaga ini bekerja sama erat dengan WHO.

Daftar Fasilitas Kesehatan Lain yang Menjadi Target

Laporan terbaru dari Al Jazeera mengungkap bahwa serangan terhadap Institut Pasteur bukanlah kejadian tunggal. Sejak 1 Maret 2026, WHO telah memverifikasi lebih dari 20 serangan terhadap sektor kesehatan di Iran, yang meliputi:

  1. Gudang Bulan Sabit Merah (Bushehr): Serangan drone pada Jumat pagi menghancurkan kontainer bantuan, bus, dan kendaraan darurat.

  2. Tofigh Daru (Teheran): Salah satu perusahaan farmasi terbesar di Iran yang memproduksi bahan obat kanker, kardiovaskular, dan narkotika medis, dihantam serangan pada 31 Maret.

  3. Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina (Teheran): Fasilitas yang baru dibangun ini mengalami kerusakan signifikan pada 29 Maret saat menampung sekitar 30 pasien.

  4. Rumah Sakit Ali (Andimeshk): Mengalami ledakan pada 21 Maret yang memaksa seluruh staf dievakuasi dan layanan medis dihentikan total.

  5. Rumah Sakit Gandhi (Teheran): Terkena dampak serangan pada awal Maret yang menargetkan menara komunikasi di dekatnya.

Dampak Kemanusiaan dan Pelanggaran Hukum Internasional

Data korban sejak dimulainya serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 telah mencapai angka yang mengerikan, dengan sedikitnya 2.076 orang tewas dan 26.500 lainnya luka-luka.

Berdasarkan Hukum Humaniter Internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2286 tahun 2016, fasilitas medis, tenaga kesehatan, dan unit transportasi medis (ambulans) dilarang keras untuk dijadikan target serangan dalam konflik bersenjata.

Pihak Teheran menilai pola serangan ini merupakan upaya sengaja untuk melumpuhkan infrastruktur kesehatan Iran, menghambat akses warga sipil terhadap obat-obatan esensial, dan menghentikan produksi vaksin nasional di tengah situasi perang yang semakin memanas.

Related posts