WASHINGTON – Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah mengerahkan ribuan personel Marinir dan pelaut tambahan ke wilayah Timur Tengah.
Berdasarkan keterangan tiga pejabat AS kepada Reuters pada Jumat (20/03/2026), pengerahan ini dilakukan tepat saat kampanye militer gabungan AS-Israel terhadap Iran mencapai tanda tiga minggu.
Pengerahan ini melibatkan kapal serbu amfibi USS Boxer beserta Unit Ekspedisi Marinir (MEU) dan kapal-kapal perang pendampingnya.
Meskipun para pejabat menegaskan bahwa belum ada keputusan final untuk mengirimkan pasukan langsung ke daratan utama Iran, penambahan kekuatan ini bertujuan untuk membangun kapasitas operasional bagi misi masa depan di kawasan tersebut.
Langkah ini akan menambah kekuatan sekitar 50.000 tentara AS yang sudah bersiaga di Timur Tengah, membawa kehadiran dua Unit Ekspedisi Marinir yang masing-masing berkekuatan sekitar 2.500 personel.
Misi potensial bagi pasukan tambahan ini mencakup berbagai opsi strategis yang sedang dibahas oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.
Laporan intelijen menyebutkan bahwa militer AS tengah mempersiapkan langkah lanjutan, termasuk pengamanan Selat Hormuz yang kemungkinan melibatkan pengerahan pasukan di sepanjang garis pantai Iran.
Opsi lain yang sangat berisiko adalah pengiriman pasukan darat ke Pulau Kharg, yang merupakan pusat bagi 90 persen ekspor minyak Iran, guna melumpuhkan kemampuan ekonomi Teheran secara total.
Presiden Donald Trump sendiri memberikan pernyataan yang ambigu kepada wartawan, dengan menyatakan bahwa ia tidak sedang menempatkan pasukan di mana pun, namun menambahkan bahwa jika ia melakukannya, ia tidak akan mengumumkannya kepada media.
Ketidakpastian ini muncul di tengah jadwal keberangkatan pasukan dari Pantai Barat AS yang dilaporkan tiga minggu lebih awal dari jadwal semula, menandakan urgensi tinggi dalam persiapan logistik militer Pentagon.
Setiap keputusan untuk melibatkan pasukan darat, meskipun dalam misi terbatas, membawa risiko politik yang sangat besar bagi Trump di dalam negeri.
Dukungan publik Amerika terhadap kampanye militer di Iran tercatat sangat rendah, terutama mengingat janji kampanye Trump untuk menghindari keterlibatan AS dalam konflik baru di Timur Tengah.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru, sekitar 65 persen warga Amerika percaya bahwa presiden akan memerintahkan perang darat skala besar, namun hanya 7 persen yang benar-benar mendukung gagasan tersebut.





