Houthi Buka Front Baru dan Serang Israel Langsung Saat Perang Iran Memasuki Bulan Kedua

SANAA – Memasuki bulan kedua perang besar yang dipicu agresi AS-Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu, kelompok Houthi di Yaman secara resmi membuka front baru dalam konflik regional yang kian tak terkendali.

Untuk pertama kalinya, kelompok yang menguasai Yaman Utara ini meluncurkan dua serangan rudal dan drone langsung ke wilayah Israel dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam pada Sabtu (28/03/2026).

Read More

Meskipun militer Israel mengeklaim telah mencegat serangan tersebut, Houthi bersumpah akan terus melancarkan aksi militer demi mendukung jaringan perlawanan di Palestina, Lebanon, Irak, hingga Iran.

Keterlibatan aktif Houthi memberikan tekanan ekonomi yang sangat besar bagi dunia, terutama karena potensi blokade ganda di jalur perdagangan maritim paling kritis.

Di saat Iran telah mencekik lalu lintas di Selat Hormuz yang mengendalikan seperlima pasokan minyak dunia, Houthi kini memegang “kartu as” melalui Selat Bab al-Mandeb.

Strategi ini bertujuan melumpuhkan ekonomi Israel dengan mengganggu arus ekspor-impor di Laut Merah, sebuah langkah yang sebelumnya pernah menjungkirbalikkan perdagangan komersial senilai satu triliun dolar per tahun.

Di Washington, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan harapan bahwa operasi militer terhadap Iran dapat diselesaikan dalam beberapa minggu, meskipun pengerahan unit Marinir AS terus berdatangan untuk memberikan fleksibilitas strategi maksimal bagi Presiden Donald Trump.

Namun, di lapangan, posisi AS dan Iran justru semakin mengeras tanpa adanya tanda-tanda terobosan diplomatik. Pemboman intensif selama dua puluh empat jam terakhir dilaporkan telah menghantam fasilitas penelitian angkatan laut di Iran serta memicu ledakan besar yang mengguncang Teheran pada Sabtu malam, sementara serangan di Zanjan menewaskan setidaknya lima warga sipil di unit perumahan.

Penderitaan warga sipil kian mendalam dengan laporan Kementerian Kesehatan Iran yang mencatat seribu sembilan ratus tiga puluh tujuh korban jiwa dan kerusakan pada lebih dari sembilan puluh tiga ribu properti sipil.

Kondisi serupa terjadi di Lebanon, di mana invasi darat Israel merangsek menuju Sungai Litani untuk menciptakan zona penyangga permanen, yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari seribu orang termasuk jurnalis dan tenaga medis.

Di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang, Hizbullah tetap melancarkan puluhan operasi balasan, mempertegas bahwa seluruh kawasan kini terjebak dalam pusaran perang yang mengancam stabilitas global secara menyeluruh.

Related posts