TEHERAN – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan keberhasilan operasi pertahanan udara berskala masif yang mereka sebut sebagai “epik bersejarah” di wilayah udara pusat Iran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Sabtu dini hari, IRGC mengklaim telah melumpuhkan serangkaian aset udara tercanggih milik Amerika Serikat dan Israel, termasuk jet tempur garis depan, pesawat nirawak (drone) serang, hingga rudal jelajah.
Teheran menjuluki peristiwa ini sebagai “hari hitam bagi Angkatan Udara AS,” sekaligus memperingatkan bahwa ruang udara Iran kini menjadi zona paling mematikan bagi pesawat asing yang mencoba melakukan agresi.
Laporan mendetail dari unit Dirgantara IRGC menyebutkan bahwa sistem pertahanan udara terintegrasi nasional mereka berhasil mengintersepsi dan menghancurkan dua rudal jelajah di atas wilayah Khomein dan Zanjan.
Selain itu, dua drone serang MQ-9 Reaper di atas Isfahan serta satu drone Hermes di atas Bushehr dilaporkan jatuh terkena hantaman peluru kendali presisi.
Namun, titik balik paling signifikan dalam palagan ini adalah jatuhnya jet tempur canggih AS yang diidentifikasi oleh para analis sebagai F-15E Strike Eagle di wilayah Iran Tengah.
Insiden ini dikonfirmasi oleh pejabat Pentagon kepada Reuters, yang memicu operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) besar-besaran oleh pasukan Amerika di tengah medan yang sangat berisiko.
Ketangguhan sistem pertahanan udara Iran kembali teruji ketika sebuah pesawat pendukung udara dekat, A-10 Thunderbolt II, juga dilaporkan jatuh di dekat Selat Hormuz setelah terlacak secara konsisten oleh radar nasional.
Analisis dari pakar militer di CNN menyebutkan bahwa rontoknya F-15E dan A-10 dalam waktu yang berdekatan merupakan bukti nyata adanya batas bagi klaim superioritas udara Washington.
Peristiwa ini dipandang sebagai titik balik strategis dalam perang yang telah berlangsung lebih dari satu bulan, di mana teknologi siluman dan keunggulan taktis Amerika kini menghadapi ancaman nyata dari inovasi pertahanan darat Iran yang kian presisi.
Menanggapi kerugian militer tersebut, Presiden Donald Trump melalui platform media sosialnya justru melontarkan ancaman ekonomi yang lebih agresif.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat dengan mudah membuka kembali Selat Hormuz melalui kekuatan militer, mengambil alih ladang minyak, dan meraup keuntungan besar dari krisis tersebut.
Pernyataan provokatif ini muncul di saat Selat Hormuz jalur nadi yang mengangkut seperlima perdagangan minyak dunia mengalami gangguan total akibat agresi AS-Israel yang kini mulai menyasar infrastruktur sipil kritis, termasuk rumah sakit, fasilitas medis, dan jaringan transportasi di seluruh daratan Iran.
Meskipun Trump berulang kali mengklaim bahwa kemampuan militer Teheran telah melemah secara drastis, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa otoritas Iran masih memegang kendali penuh atas infrastruktur domestik dan terus melancarkan operasi defensif yang mematikan.
Penghancuran Institut Pasteur dan berbagai fasilitas publik lainnya oleh serangan koalisi tidak menyurutkan perlawanan, melainkan justru memicu peningkatan intensitas pengawasan ruang udara.
Dengan komitmen untuk menjadikan langit Iran “lebih tidak aman dari sebelumnya bagi musuh,” IRGC menegaskan bahwa setiap upaya penetrasi udara di masa depan akan dihadapi dengan kekuatan yang lebih menghancurkan.





