TEL AVIV — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel (IDF) tetap akan melanjutkan operasi skala penuh terhadap aset strategis di Iran dan posisi Hezbollah di Lebanon. Langkah ini diambil di tengah menguatnya sinyal diplomasi yang melibatkan lingkaran dalam presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam pernyataan resminya, Netanyahu mengonfirmasi bahwa komunikasi intensif terus dilakukan untuk menentukan arah konflik ke depan. Namun, ia menekankan bahwa negosiasi bukan berarti gencatan senjata, melainkan bagian dari strategi untuk menekan lawan.
Pengamat militer menilai Israel sedang menerapkan coercive diplomacy. Setiap serangan udara yang menyasar infrastruktur militer dan fasilitas persenjataan di Iran bukan sekadar operasi taktis, melainkan pesan politik untuk memaksa Teheran menerima syarat-syarat perundingan yang diajukan Israel.
Tidak ada indikasi jeda atau deeskalasi di lapangan saat ini. Di saat yang sama, Netanyahu mengklaim sejumlah figur kunci di pihak lawan telah “dihilangkan” guna melemahkan struktur komando musuh sebelum kesepakatan apa pun tercapai.
Meski eskalasi militer meningkat, jalur komunikasi non-formal dilaporkan tetap berjalan. Nama-nama seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner disebut-sebut menjadi perantara kunci dalam penjajakan ini.
Namun, ketiadaan struktur formal dalam komunikasi ini menciptakan ketidakpastian tinggi. Tanpa transparansi dan kerangka kerja yang jelas, risiko salah kalkulasi di lapangan tetap membayangi, yang sewaktu-waktu dapat memicu perang regional yang lebih luas.
Hingga saat ini, fokus utama Israel bukan sekadar menghentikan baku tembak, melainkan memastikan syarat-syarat penghentian konflik ditulis di bawah dominasi mereka. Pertanyaan besar yang tersisa bagi komunitas internasional adalah apakah diplomasi di tengah dentuman bom ini akan melahirkan stabilitas jangka panjang, atau hanya sekadar jeda sebelum ledakan konflik berikutnya.





