TEHERAN – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa tujuh komandan senior mereka tewas dalam sebuah operasi militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel. Pengumuman resmi ini disampaikan pada Minggu (1/3), menyusul eskalasi ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis melalui kantor berita IRNA, IRGC menyampaikan duka mendalam atas gugurnya para perwira tinggi tersebut. Mereka menyebut para korban sebagai sosok pemberani yang menjadi target dalam apa yang Teheran istilahkan sebagai “serangan brutal” oleh pihak Washington dan Tel Aviv.
Di antara nama-nama besar yang dilaporkan tewas adalah Jenderal Hossein Salami, yang menjabat sebagai Komandan IRGC, serta Jenderal Gholam-Ali Rashid yang merupakan pemimpin markas pusat militer Khatam al-Anbiya.
Agresi udara yang terjadi pada hari Sabtu tersebut menyasar sejumlah titik strategis di wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur militer, tetapi juga menimbulkan korban di kalangan warga sipil.
Sebagai bentuk balasan, Iran langsung meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel serta menyasar fasilitas militer milik Amerika Serikat yang tersebar di Timur Tengah. Konflik ini telah memicu kekhawatiran global akan terjadinya perang skala besar yang melibatkan kekuatan internasional.
Hingga saat ini, suasana berkabung menyelimuti Iran, sementara dunia internasional terus memantau dampak dari hilangnya tokoh-tokoh kunci militer Teheran terhadap peta kekuatan di kawasan tersebut.





