Ultimatum Terakhir Trump Ancam Penghancuran Total Infrastruktur Energi Iran di Tengah

WASHINGTON – Krisis di Asia Barat memasuki fase paling kritis saat Presiden Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bagi Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi risiko penghancuran total pada sumur minyak, pembangkit listrik, dan pusat ekspor vital di Pulau Kharg.

Melalui unggahan di media sosial pada Senin (30/03/2026), Trump menyatakan bahwa meskipun kemajuan diplomatik telah dirasakan, Amerika Serikat siap mengakhiri operasi militernya dengan meledakkan seluruh infrastruktur energi Republik Islam jika kesepakatan tidak segera tercapai.

Read More

Ancaman ini muncul saat harga minyak mentah Brent melonjak mendekati $116 per barel akibat kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi dunia yang kian parah.

Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi yang tak kunjung padam ketika Iran meluncurkan beberapa gelombang rudal ke arah Israel pada Senin pagi sebagai bentuk balasan atas gempuran IDF di Teheran.

Di Haifa, kota terbesar ketiga Israel, asap hitam pebal terlihat membumbung tinggi setelah kilang minyak di zona industri tersebut dihantam proyektil, yang mengakibatkan kerusakan pada tangki-tangki bahan bakar.

Militer Israel juga melaporkan telah mencegat dua drone dari Yaman yang dikirim oleh kelompok Houthi, menandai keterlibatan aktif front baru tersebut setelah mereka mulai menembakkan rudal ke Israel akhir pekan lalu.

Di balik retorika perang, dinamika diplomatik yang rumit sedang berlangsung di Islamabad melalui mediasi Pakistan bersama menteri luar negeri Arab Saudi, Mesir, dan Turki.

Trump mengeklaim telah terjadi pertemuan “langsung dan tidak langsung” dengan kepemimpinan baru Iran—yang kini dipimpin oleh Mojtaba Khamenei dan menyebut sikap mereka mulai melunak.

Namun, klaim optimisme Trump tersebut dibenturkan oleh pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang menganggap proposal perdamaian Amerika Serikat tidak realistis dan berlebihan.

Teheran menegaskan bahwa seluruh kekuatan mereka saat ini difokuskan pada pertahanan diri melawan agresi militer yang telah berlangsung selama satu bulan penuh.

Dampak perang ini telah merambat luas ke berbagai sektor ekonomi dan militer di wilayah tersebut. Irak melaporkan pangkalan udara Mohamad Alaa di dekat Bandara Baghdad terkena roket, sementara Kuwait berhasil mencegat lima drone di wilayah perlindungannya.

Di Lebanon, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan perluasan operasi darat untuk menciptakan zona penyangga permanen, yang memicu ketakutan akan pendudukan militer jangka panjang.

Dengan angka kematian di Iran yang dilaporkan mencapai tiga ribu lima ratus jiwa dan belasan personel militer AS gugur, tekanan domestik terhadap Trump mulai meningkat menjelang pemilihan paruh waktu November, di mana mayoritas warga Amerika menentang eskalasi militer yang berisiko memicu krisis energi berkepanjangan.

Related posts