Penyembuhan dari Balik Layar, Inovasi Digital Peace Therapist Hadapi Krisis Kesehatan Mental Pengungsi Global

DUBAI – Di tengah rekor tertinggi perpindahan paksa dunia yang mencapai 122 juta orang pada April 2025, sebuah platform dukungan psikologis digital besutan pengungsi Suriah, Jin Dawod, muncul sebagai tumpuan harapan bagi ribuan penyintas konflik.

Melalui Peace Therapist, Dawod mengubah trauma pribadinya saat melarikan diri dari perang saudara Suriah menjadi solusi teknologi yang menyediakan akses kesehatan mental dalam empat bahasa.

Read More

Sejak diluncurkan pada 2018, perusahaan sosial ini telah memfasilitasi lebih dari 70.000 sesi terapi di Turki, Suriah, dan Eropa, mematahkan hambatan bahasa dan stigma yang selama ini mengisolasi para pengungsi dari bantuan profesional.

Latar belakang urgensi ini sangat nyata; data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa 22 persen orang yang terpapar perang dalam satu dekade terakhir menderita depresi, kecemasan, PTSD, hingga skizofrenia.

Bagi migran, risiko psikosis sering kali lebih tinggi akibat akumulasi kerugian sosial selama perjalanan mereka. Dawod mengungkapkan bahwa saat ia menempuh studi teknik komputer di Turki, ia menyadari minimnya ruang bagi pengungsi untuk mengekspresikan ketakutan mereka dalam bahasa ibu.

Hal inilah yang mendorongnya membangun jembatan digital yang menghubungkan pasien dengan psikolog yang memahami konteks budaya mereka secara spesifik.

Operasional Peace Therapist dijalankan melalui tiga pilar utama: dukungan langsung global bagi individu, kemitraan strategis dengan lembaga PBB seperti UNHCR dan ILO, serta “Rencana Sosial” yang menjadi jantung misi mereka.

Rencana sosial ini menyediakan sesi gratis bagi kelompok yang paling tidak beruntung, sebuah inisiatif yang sepenuhnya dikelola secara mandiri tanpa sponsor pemerintah.

Kecepatan respons platform ini teruji saat gempa bumi dahsyat Turki-Suriah tahun 2023, di mana ratusan permintaan bantuan masuk hanya dalam hitungan jam setelah Dawod membagikan saluran siaga di media sosial.

Integrasi teknologi canggih turut menjadi keunggulan platform ini, di mana kecerdasan buatan (AI) digunakan untuk mencocokkan pengguna dengan lebih dari 150 psikolog dari berbagai latar belakang budaya, termasuk Lebanon, Irak, Palestina, dan Turki.

Langkah ini krusial untuk memastikan sensitivitas budaya dan mencegah dampak negatif dari perjodohan terapis yang tidak tepat. WHO menekankan bahwa pendekatan multidisiplin yang mengintegrasikan dukungan sosial dan keterlibatan komunitas seperti yang dilakukan Peace Therapist adalah kunci efektivitas perawatan bagi populasi yang berpindah.

Meski telah meraih berbagai penghargaan prestisius seperti Nansen Refugee Award 2024, Dawod menegaskan bahwa penghargaan terbesar adalah umpan balik dari mereka yang berhasil menemukan kedamaian batin melalui layanannya.

Dengan meningkatnya diskriminasi dan hambatan akses di banyak negara tuan rumah, platform digital seperti ini kini dipandang oleh organisasi kemanusiaan sebagai solusi yang dapat diskalakan dalam situasi pasca-konflik.

Bagi Dawod, misi ini tetap bersifat personal; ia percaya bahwa membangun perdamaian dunia harus dimulai dari membangun kedamaian di dalam diri setiap individu yang terdampak perang.

Related posts