Trump Targetkan Jembatan dan Pembangkit Listrik Iran dalam Eskalasi Infrastruktur Total

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan paling keras sejauh ini dengan mengancam akan menghancurkan jembatan-jembatan utama dan jaringan pembangkit listrik di seluruh Iran.

Melalui pernyataan di media sosial pada Kamis malam, Trump menegaskan bahwa kampanye militer Amerika Serikat saat ini bahkan belum mulai melumpuhkan sisa-sisa kekuatan infrastruktur negara tersebut.

Read More

Dengan nada provokatif, ia memerintahkan kepemimpinan di Teheran untuk segera tunduk pada persyaratan Washington jika tidak ingin menyaksikan penghancuran total yang menyasar sektor energi dan konektivitas sipil.

Dalam pidato televisi yang disiarkan sebelumnya, Trump menyatakan bahwa perang yang meletus sejak akhir Februari lalu dapat meningkat secara eksponensial apabila Iran menolak menyerah.

Ia sesumbar akan membawa Iran kembali ke “Zaman Batu” dalam kurun waktu dua hingga tiga minggu ke depan melalui serangan udara masif yang melumpuhkan.

Meski mengklaim bahwa Washington hampir mencapai tujuannya di Teheran, Trump tetap menolak memaparkan garis waktu yang jelas untuk mengakhiri konflik militer terbesar Amerika Serikat sejak invasi Irak tahun 2003 tersebut.

Kekhawatiran akan meluasnya target serangan juga disuarakan oleh Kantor Berita Fars Iran, yang melaporkan bahwa daftar sasaran potensial kini mencakup jembatan-jembatan terkemuka di negara-negara regional seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Kuwait.

Hal ini menyusul serangan ganda yang menghantam jembatan strategis B1 pada Kamis pagi. Eskalasi ini memicu perdebatan hukum yang sengit di dalam negeri; puluhan pakar hukum internasional di Amerika Serikat telah menandatangani surat terbuka yang memperingatkan bahwa penargetan infrastruktur sipil secara sengaja dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang di bawah Konvensi Jenewa 1949.

Secara hukum, protokol tambahan Konvensi Jenewa mewajibkan pihak yang bertikai untuk membedakan antara objek sipil dan tujuan militer secara tegas.

Namun, strategi “bumi hangus” yang diisyaratkan oleh Gedung Putih tampak mengabaikan batasan tersebut demi memaksa kapitulasi Teheran.

Sementara itu, di lapangan, dampak perang gabungan AS-Israel telah merenggut ribuan nyawa dan memicu eksodus jutaan pengungsi, menciptakan krisis kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Timur Tengah dan Lebanon.

Ketidakpastian arah perang ini terus mengguncang pasar global, dengan harga minyak dunia yang tetap melonjak tajam akibat ancaman terhadap infrastruktur energi Iran.

Pesan-pesan kontradiktif yang disampaikan Trump sejauh ini dinilai belum mampu meredakan kecemasan internasional atas dampak ekonomi jangka panjang.

Dengan jembatan dan pembangkit listrik kini berada dalam bidikan proyektil AS, kawasan Timur Tengah berada di ambang kehancuran infrastruktur total yang dapat melumpuhkan kehidupan warga sipil selama beberapa generasi mendatang.

Related posts