Gelombang 92 IRGC Rudal Balistik Hantam Kapal Amfibi AS dan Skuadron F-16 Israel di Haifa

TEHERAN – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan serangan besar-besaran yang diberi sandi “Gelombang 92” sebagai bagian dari Operasi True Promise 4, menargetkan aset-aset militer strategis Amerika Serikat dan Israel di seluruh kawasan Timur Tengah.

Menggunakan kombinasi rudal balistik canggih dan drone bunuh diri, pasukan elit Teheran mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal angkut amfibi militer AS di Kuwait serta melumpuhkan sistem radar pertahanan udara jarak jauh di Bahrain.

Read More

Eskalasi ini menandai babak baru pertempuran langsung yang semakin sengit sejak perang pecah, di mana Iran mulai menargetkan secara spesifik alat utama sistem persenjataan (alutsista) bernilai tinggi milik Washington dan sekutunya.

Dalam rincian operasional yang dirilis pada Jumat, IRGC menyatakan bahwa rudal balistik mereka berhasil menghancurkan sejumlah unit Landing Craft Utility (LCU) amfibi AS yang tengah bersandar di Pelabuhan al-Shuwaikh, Kuwait.

Kapal-kapal angkat berat ini merupakan tulang punggung logistik pasukan amfibi Angkatan Laut AS untuk mengangkut kendaraan tempur dan personel. Di saat yang sama, serangan drone presisi dilaporkan telah melumat sistem radar pengawasan udara 3D taktis AR327 di situs Jabal al-Dukhan, Bahrain.

Radar berkinerja tinggi yang dirancang untuk deteksi jarak jauh dan pertahanan udara tersebut hancur total, menciptakan celah signifikan dalam jaringan pemantauan udara regional milik koalisi pimpinan AS.

Serangan juga merambah ke wilayah pendudukan Israel, di mana Angkatan Dirgantara IRGC menghujani Pangkalan Udara Ramat David di tenggara Haifa yang menjadi markas skuadron jet tempur F-16.

Tak hanya itu, Iran meluncurkan rudal Khorramshahr-4 bertenaga hipergolik yang dilengkapi hulu ledak klaster, menargetkan lebih dari 50 titik strategis di Tel Aviv dan Haifa.

Di wilayah udara domestik, Teheran mengklaim pencapaian militer yang signifikan dengan menjatuhkan jet tempur F-35 kedua milik skuadron Lakenheath Angkatan Udara AS di atas Iran tengah.

Klaim ini, jika terverifikasi, akan menjadi pukulan telak bagi supremasi udara Amerika Serikat di kancah global.

Menanggapi ancaman Presiden Donald Trump yang berencana menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik Iran, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya mengeluarkan peringatan pembalasan total.

Juru bicara militer, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur sipil Iran akan dibalas dengan penghancuran aset energi, ekonomi, dan pusat listrik AS serta Israel di seluruh kawasan dengan intensitas yang lebih besar.

Teheran juga memperluas ancamannya kepada negara-negara tuan rumah pangkalan militer AS, memperingatkan bahwa mereka akan dianggap sebagai target sah jika tetap memberikan perlindungan bagi pasukan Amerika di wilayah mereka.

Eskalasi “api-untuk-api” ini telah menciptakan kebuntuan militer yang berbahaya, di mana kedua belah pihak kini secara terbuka menargetkan infrastruktur vital dan aset tempur paling elit masing-masing.

Dengan jatuhnya korban dari unit tempur udara tercanggih dan aset logistik maritim, peta konflik kini tidak lagi terbatas pada perang proksi, melainkan konfrontasi langsung yang mempertaruhkan stabilitas global.

Ancaman Iran untuk menyerang balik aset-aset kritis di seluruh Timur Tengah menempatkan negara-negara tetangga dalam posisi terjepit antara tuntutan Washington dan risiko serangan rudal Teheran.

Related posts