Eks Kepala Nuklir PBB Desak Trump Hentikan Pengeboman

KAIRO – Mantan Direktur Jenderal Badan Tenaga Nuklir Internasional (IAEA), Mohamed El-Baradei, meluncurkan seruan darurat kepada negara-negara Teluk untuk segera mengintervensi dan mencegah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengubah Timur Tengah menjadi “bola api” yang menghancurkan.

Melalui pernyataan tajam di platform media sosial X pada Sabtu, 4 April 2026, peraih Nobel Perdamaian tersebut mendesak para pemimpin regional untuk menggunakan segala pengaruh diplomatik mereka guna meredam ambisi militer Washington sebelum ultimatum 48 jam yang dilontarkan Trump berakhir dengan kehancuran total.

Read More

Kekhawatiran El-Baradei memuncak setelah Trump merilis ancaman terbaru yang menyatakan bahwa Iran akan menghadapi “neraka dunia” jika tidak segera menyepakati perjanjian baru atau membuka kembali Selat Hormuz.

Jalur pelayaran vital yang mengangkut sebagian besar pasokan minyak global tersebut telah diblokade secara efektif oleh Teheran sejak serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 memicu perang regional berskala besar.

El-Baradei, yang memimpin IAEA selama periode awal ketegangan nuklir Iran, menandai akun resmi PBB, Uni Eropa, hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron, seraya mempertanyakan apakah komunitas internasional sudah kehilangan kemampuan untuk menghentikan apa yang ia sebut sebagai “kegilaan” ini.

Presiden Trump sendiri melalui platform Truth Social mengingatkan kembali pada ultimatum sepuluh hari yang ia keluarkan pada 26 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa waktu bagi Teheran telah hampir habis dan hanya tersisa 48 jam sebelum militer Amerika Serikat melancarkan serangan infrastruktur besar-besaran yang sebelumnya ia beri tajuk “Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan”.

Ketegangan ini menempatkan kawasan Teluk pada titik nadir keamanan, mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi ekonomi bagi negara-negara tetangga yang kini terjepit di antara agresi AS dan pembalasan Iran.

Diplomat senior Mesir berusia 83 tahun tersebut juga menyurati kementerian luar negeri Tiongkok dan Rusia untuk bertindak sebagai penyeimbang kekuatan di Dewan Keamanan PBB.

El-Baradei, yang dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 2005 atas upayanya mencegah proliferasi senjata nuklir, memandang retorika Trump bukan sekadar gertakan politik, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas peradaban di Timur Tengah.

Pengalaman panjangnya dalam menangani krisis nuklir Iran membuatnya sangat menyadari bahwa eskalasi militer saat ini dapat memicu dampak kemanusiaan dan lingkungan yang tidak dapat diperbaiki.

Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda de-eskalasi dari pihak Gedung Putih maupun Teheran, sementara militer di seluruh kawasan telah berada dalam status siaga tertinggi.

Negara-negara Teluk kini menghadapi dilema eksistensial untuk mengikuti seruan El-Baradei atau tetap berada dalam aliansi keamanan bersama Washington yang kian agresif.

Dengan jam yang terus berdetak menuju tenggat waktu 48 jam tersebut, dunia menantikan apakah diplomasi menit-menit terakhir mampu mencegah Timur Tengah terseret ke dalam lubang kehancuran permanen.

Related posts