Ketika Kejahatan Perang Tak Lagi Memalukan, Dunia Berada dalam Bahaya Besar

Sebuah peringatan keras muncul di tengah eskalasi konflik yang kian membara di Timur Tengah. Hukum internasional yang dirancang untuk melindungi warga sipil kini berada di titik nadir. Kejahatan perang, yang dulunya dianggap sebagai noda hitam yang memalukan bagi sebuah bangsa, kini justru dilakukan secara terbuka tanpa rasa bersalah.

Dalam opininya yang diterbitkan oleh Al Jazeera pada 3 April 2026, Philippe Bolopion menyoroti fenomena mengerikan di mana negara-negara yang terlibat konflik—termasuk Amerika Serikat, Israel, dan Iran—menunjukkan sikap “menghina secara terang-terangan” terhadap aturan perang.

Read More

Bolopion menekankan bahwa perubahan paling drastis dalam konflik saat ini bukan hanya pada kecanggihan senjata, melainkan pada hilangnya rasa malu dan tanggung jawab moral para pemimpin dunia.

“Apa yang telah berubah di Timur Tengah adalah penghinaan sombong yang kita lihat dari Amerika Serikat, Israel, dan Iran saat mereka mengabaikan, mengejek, atau melanggar hukum internasional yang melindungi warga sipil.”

Beliau juga memperingatkan bahwa jika dunia membiarkan hukum ini runtuh, masa depan kemanusiaan akan sangat kelam.

“Para pemimpin yang menolak hukum perang hari ini mungkin berpikir mereka akan mendapat keuntungan dari dunia tanpa aturan, di mana kekuatan kasar menyelesaikan setiap pertanyaan dan semua penderitaan sipil dianggap sebagai kerusakan tambahan (collateral damage).”

Standar Ganda yang Menghancurkan Keadilan

Artikel tersebut menggarisbawahi adanya standar ganda yang akut dalam diplomasi global. Ketika infrastruktur energi di Teluk diserang, kecaman internasional muncul dalam hitungan jam. Namun, ketika hukum internasional dilanggar melalui penggunaan fosfor putih di lingkungan penduduk atau penghancuran rumah sakit, banyak pemerintahan justru memilih untuk bungkam.

Bolopion menegaskan bahwa jika hukum hanya digunakan untuk menghukum musuh tetapi diabaikan ketika dilakukan oleh sekutu, maka aturan tersebut hanyalah alat politik, bukan keadilan.

Langkah Mendesak: Amankan Bukti Sekarang

Di tengah kekacauan ini, ada seruan darurat bagi komunitas internasional untuk tidak menunggu hingga perang usai demi mencari keadilan.

  • Preservasi Bukti: Pemerintah dengan kemampuan intelijen canggih harus segera membagikan citra satelit, intersepsi komunikasi, dan rekaman sumber terbuka.

  • Sumber Daya PBB: Badan investigasi PBB membutuhkan tambahan sumber daya segera agar bukti kejahatan perang tidak hilang atau dihapus.

  • Konsistensi Suara: Negara-negara harus berani bersuara bahwa serangan terhadap pembangkit listrik di Iran, rumah-rumah di Lebanon, atau fasilitas sipil di Teluk adalah pelanggaran hukum perang, siapapun pelakunya.

Sebuah Pesan untuk Generasi Mendatang

Jika sistem yang membatasi barbarisme perang ini dibiarkan terbakar hingga habis, kita semua akan menanggung risikonya.

“Mereka yang melihat nilai dari sistem yang ada untuk menahan barbarisme perang harus mempertahankannya. Jika tidak, suatu hari nanti mereka akan terpaksa menjelaskan kepada generasi mendatang mengapa mereka tidak melakukan apa-apa saat sistem itu hancur.” — Philippe Bolopion.

Related posts