Eskalasi Serangan Hizbullah: Kompleks Militer Rafael dan Wilayah al-Jalil Menjadi Target Utama

LIBANON – Kelompok perlawanan Lebanon, Hizbullah, meningkatkan intensitas operasinya pada Kamis, 5 Maret, dengan meluncurkan serangkaian serangan roket dan drone ke berbagai posisi strategis Israel. Langkah ini dinyatakan sebagai aksi balasan atas agresi militer Israel yang terus menghantam puluhan kota di Lebanon, termasuk wilayah pinggiran selatan Beirut.

Salah satu target utama dalam operasi ini adalah kompleks industri militer Rafael yang terletak di selatan Akka, sebuah fasilitas krusial bagi produksi pertahanan Israel. Selain itu, unit perlawanan juga mengerahkan kawanan drone penghancur ke Barak Ya’ara pada pagi hari, serta menghujani pangkalan Naftali di barat Danau Tiberias dengan rentetan roket jarak jauh.

Read More

Di wilayah perbatasan, pejuang Hizbullah fokus memutus jalur pergerakan pasukan darat Israel yang mencoba membangun posisi militer baru di kota Markaba, Lebanon selatan. Berdasarkan laporan lapangan, pasukan perlawanan berhasil melakukan serangan presisi menggunakan roket dan rudal berpemandu terhadap konsentrasi tentara serta kendaraan militer Israel di beberapa titik, termasuk Bukit al-Ajal dan situs Blat.

Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari gelombang serangan besar-besaran pada hari Rabu sebelumnya. Saat itu, Hizbullah mengklaim telah menghantam infrastruktur vital jauh di dalam wilayah pendudukan, seperti lapangan terbang Ein Shemer yang menampung sistem pertahanan rudal Arrow, markas komando Tel HaShomer di tenggara Tel Aviv, serta pusat industri kedirgantaraan Israel. Di sektor darat, pertempuran sengit juga dilaporkan terjadi di Khiam, yang memaksa mundurnya sejumlah kendaraan tempur Israel setelah kehilangan sebuah tank Merkava.

Agresi udara Israel sepanjang hari Kamis telah merenggut lebih dari 10 nyawa warga sipil di Lebanon Selatan, Lembah Bekaa, dan Beirut. Salah satu insiden paling memilukan terjadi di Zawtar al-Sharqiya, di mana satu keluarga beranggotakan empat orang tewas akibat serangan udara yang menghancurkan rumah mereka. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga hari terakhir, jumlah korban jiwa telah mencapai sedikitnya 72 orang dengan ratusan lainnya luka-luka.

Menanggapi situasi yang kian memanas, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Syekh Naim Qassem, memberikan peringatan keras. Beliau menegaskan bahwa Lebanon tidak akan lagi membiarkan pelanggaran kedaulatan yang terus menerus dilakukan oleh Israel. Syekh Qassem menyatakan bahwa konflik ini merupakan rencana yang sudah dipersiapkan sejak lama oleh Israel dan menegaskan bahwa perlawanan siap menghadapi konfrontasi jangka panjang demi mempertahankan wilayah mereka.

Related posts