Pertahanan Udara Israel Gagal Bendung Rudal Baru Iran, Tel Aviv Dilaporkan Mulai Menyerupai Kondisi Gaza

JAKARTA – Situasi di Tel Aviv kini digambarkan sangat genting, di mana sejumlah pihak mulai menyamakan tingkat kehancuran di kota tersebut dengan kondisi yang terjadi di Jalur Gaza akibat hantaman rudal yang masif.

Analis Timur Tengah Anan Nurdin memaparkan laporan terkini dari Al Jazeera yang menunjukkan warga Israel berbondong-bondong memasuki bunker perlindungan saat sirine peringatan terus meraung di berbagai sudut kota.

Read More

Serangan kali ini melibatkan puluhan rudal yang datang secara bersamaan dan menyasar pusat kota Tel Aviv, mengakibatkan gedung-gedung runtuh total dan memaksa ambulans bekerja tanpa henti untuk mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan.

Berdasarkan pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC), rudal-rudal yang dikerahkan saat ini adalah jenis baru dengan daya ledak yang jauh lebih dahsyat dibandingkan persenjataan lama yang digunakan pada awal pembukaan perang.

Anan Nurdin menegaskan bahwa klaim Iran mengenai senjata baru ini bukan sekadar gertakan, mengingat dampak kerusakan yang terlihat sangat nyata di lapangan. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa Tel Aviv sedang mengarah menjadi “Gaza kedua” jika intensitas serangan tidak segera menurun.

Analis Kajian Intelijen Robi Sugara turut menyoroti strategi Iran yang menggunakan taktik kuantitas untuk melumpuhkan sistem Iron Dome. Menurutnya, Iran sengaja meluncurkan ratusan rudal secara simultan agar sistem pertahanan udara Israel kewalahan karena jumlah peluncur yang terbatas.

Selain itu, akurasi serangan Iran diduga kuat mendapat dukungan teknologi dari sekutu strategisnya. Penggunaan satelit milik Tiongkok dilaporkan membantu presisi rudal Iran sehingga pihak Amerika Serikat kesulitan untuk mematikan sistem navigasi yang digunakan oleh pihak Teheran.

Kegagalan sistem pertahanan udara yang selama ini dibanggakan oleh Amerika Serikat dan Israel juga berdampak pada kepercayaan negara-negara di kawasan Teluk. Negara-negara monarki seperti Qatar dan Uni Emirat Arab mulai meragukan jaminan keamanan dari pangkalan militer Amerika di wilayah mereka dan mulai melirik Rusia serta Tiongkok sebagai alternatif sekutu strategis baru.

Hingga saat ini, pemerintah Israel di bawah Benjamin Netanyahu belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait jumlah pasti korban jiwa, meski laporan dari berbagai rumah sakit terus menunjukkan peningkatan jumlah pasien akibat serangan tersebut.

Related posts