Energi Global Terguncang: Harga Minyak Lampaui $100 per Barel Akibat Konflik Iran

TEHERAN – Pasar energi dunia mengalami guncangan hebat setelah harga minyak mentah melonjak tajam melampaui ambang batas US$100 per barel.

Kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi militer skala besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Minyak mentah Brent, sebagai patokan internasional, sempat meroket hingga 20 persen dan menyentuh angka US$114 per barel pada hari Minggu.

Read More

Meskipun sempat mengalami sedikit koreksi ke level US$107,50 pada Senin pagi, ini merupakan kali pertama harga minyak menembus angka tiga digit sejak krisis Ukraina tahun 2022.

Lonjakan harga ini merupakan dampak langsung dari terganggunya jalur navigasi di Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Respons balasan Iran terhadap agresi Barat telah menyebabkan negara-negara produsen utama di Teluk, seperti Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, terpaksa memangkas produksi mereka akibat penumpukan stok yang tidak dapat diekspor.

Situasi semakin memburuk setelah militer Israel melancarkan serangan udara perdana terhadap infrastruktur penyimpanan dan terminal ekspor minyak Iran di Teheran dan Provinsi Alborz.

Sebagai jawaban, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengancam akan menyasar fasilitas energi di seluruh kawasan dan memperingatkan bahwa harga minyak bisa melambung hingga US$200 per barel jika agresi terus berlanjut.

Menanggapi krisis ini, Presiden AS Donald Trump cenderung meremehkan kenaikan biaya hidup yang diakibatkannya.

Melalui unggahan di media sosial, Trump menyatakan bahwa lonjakan harga ini bersifat jangka pendek dan merupakan “harga kecil” yang harus dibayar demi keamanan nasional serta penghapusan ancaman nuklir Iran.

Senada dengan Trump, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa kenaikan harga di SPBU hanya bersifat sementara.

Namun, pernyataan optimis tersebut kontras dengan realitas di pasar saham Asia yang anjlok tajam pada Senin pagi, di mana indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan merosot lebih dari 7 hingga 8 persen karena kekhawatiran investor akan inflasi yang tak terkendali.

Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global kini semakin nyata. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen akan memicu kenaikan inflasi global sebesar 0,4 persen dan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Di tengah klaim Washington bahwa perang akan berakhir cepat, Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi justru memberikan peringatan suram bahwa seluruh produsen di wilayah Teluk mungkin akan segera menghentikan produksi dan menyatakan status force majeure.

Jika kebuntuan di jalur maritim strategis ini terus berlanjut, pasar global diprediksi akan menghadapi hambatan ekonomi yang jauh lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Related posts