Harga Minyak Dunia Melonjak di Tengah Lumpuhnya Selat Hormuz

IRAN – Harga minyak mentah global mencatatkan kenaikan signifikan lebih dari 2% pada perdagangan Selasa fajar seiring dengan reaksi pasar terhadap risiko gangguan pasokan yang kian parah.

Lonjakan ini dipicu oleh konfrontasi militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran serta penutupan hampir total di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu titik tersedak energi paling kritis di dunia.

Read More

Minyak mentah jenis Brent melonjak sebesar 2,48 dolar (2,5%) menjadi 102,69 dolar per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,42 dolar (2,6%) ke level 95,92 dolar.

Kenaikan ini menghapus tren penurunan pada sesi sebelumnya dan mencerminkan rapuhnya sentimen investor saat perang memasuki minggu ketiga.

Gangguan distribusi energi ini diperparah oleh dinamika diplomatik yang memanas antara Washington dan para sekutunya.

Presiden Donald Trump secara terbuka mendesak negara-negara seperti Inggris, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengerahkan kapal perang guna mengawal kapal tanker komersial melalui Selat Hormuz.

Namun, seruan tersebut menghadapi penolakan luas dari banyak mitra Barat yang enggan terseret lebih jauh ke dalam konflik. Penolakan ini memicu kritik tajam dari Trump yang menuduh para sekutunya gagal memberikan dukungan balik meskipun Amerika Serikat telah memberikan perlindungan keamanan di kawasan tersebut selama puluhan tahun.

Lumpuhnya Selat Hormuz secara efektif mulai memukul tingkat produksi minyak di kawasan Teluk, di mana Uni Emirat Arab sebagai produsen terbesar ketiga di OPEC dilaporkan telah memangkas produksi minyak mentahnya lebih dari setengahnya karena jalur ekspor yang terhenti.

Sebagai langkah mitigasi, Badan Energi Internasional (IEA) kini tengah mempertimbangkan untuk melepas cadangan minyak strategis tambahan guna membantu menstabilkan harga di pasar global.

Langkah ini dipandang mendesak mengingat lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut masih sangat terbatas dan berisiko tinggi terhadap serangan susulan.

Lembaga keuangan internasional mulai merespons ketidakpastian ini dengan merevisi prospek harga minyak untuk masa depan.

Bank of America dan Standard Chartered secara resmi telah menaikkan perkiraan harga Brent mereka, yang mencerminkan kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan hingga kuartal kedua tahun ini.

Dengan pernyataan pejabat Israel yang mengindikasikan bahwa agresi militer mungkin berlanjut setidaknya selama tiga minggu ke depan, pasar energi global diprediksi akan terus berada dalam tekanan tinggi dan menjadi faktor penentu utama bagi inflasi energi dunia dalam jangka pendek.

Related posts