JAKARTA – Memasuki pekan ketiga konflik di Timur Tengah, peta peperangan menunjukkan pergeseran yang signifikan. Amerika Serikat (AS) dan Israel kini dilaporkan berada dalam kondisi dilematis akibat kegagalan strategi awal yang meleset dari perkiraan.
Alih-alih melumpuhkan mentalitas lawan, serangan udara masif justru direspon Iran dengan peluncuran teknologi rudal balistik terbaru yang lebih mematikan dan presisi.
Pengamat terorisme dan intelijen Ridwan Habib mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai mundurnya Joseph Keren, Direktur National Counter Terrorism Center (NCTC) Amerika Serikat.
Ridwan menyebutkan bahwa dalam surat terbuka kepada Presiden Donald Trump, Keren menyatakan keyakinannya bahwa Amerika akan kalah dalam perang melawan Iran. Menurut Ridwan, pengunduran diri ini merupakan indikasi kuat adanya keretakan internal di Washington karena strategi yang tidak berjalan sesuai rencana.
Ridwan Habib menjelaskan bahwa salah satu kesalahan fatal AS adalah asumsi bahwa pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, akan meruntuhkan moralitas tentara dan rakyat Iran.
Kenyataannya, struktur kepemimpinan Iran tetap solid dan pengganti yang muncul tetap menunjukkan kegigihan yang sama. Kondisi frustrasi ini, menurut Ridwan, terlihat dari perubahan pola serangan Israel dan AS yang mulai menyasar fasilitas sipil, sebuah tindakan yang melanggar hukum perang internasional.
Dari sisi teknis militer, Ridwan menyoroti ketangguhan alutsista Iran yang tidak berkurang signifikan meski digempur setiap hari.
Iran justru mulai memperkenalkan rudal balistik terbaru bernama Sejjil yang memiliki fitur multi-warhead (banyak kepala peledak).
Rudal ini diklaim mampu meluncur dengan kecepatan 13 Mach atau 13 kali kecepatan suara dengan tingkat akurasi di bawah 100 meter dari target. Kemampuan ini membuat sistem pertahanan udara lawan kewalahan dan menunjukkan bahwa kapasitas industri militer Iran masih sangat produktif di tengah tekanan.
Senada dengan hal tersebut, dosen Hubungan Internasional Universitas BINUS, Tia Mariatul, menilai Amerika Serikat telah salah strategi sejak awal, terutama saat mengizinkan Israel menyerang Iran secara terbuka.
Tia mengamati bahwa saat ini Presiden Trump mulai kebingungan dalam mengakhiri perang dan berupaya mengajak sekutu internasional untuk bergabung menjaga keamanan di Selat Hormuz.
Namun, ajakan tersebut menemui jalan buntu karena negara-negara besar seperti Inggris dan Australia menolak mengirimkan kapal perang mereka demi menjaga keselamatan aset masing-masing.
Analisis ini diperkuat dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara media internasional yang dikutip oleh Ridwan Habib.
Araghchi menyatakan bahwa Iran kini justru sedang “menunggu” tentara Israel dan Amerika Serikat untuk masuk ke wilayah mereka guna memulai perang darat. Bagi Iran, perang darat adalah babak yang mereka siapkan untuk menjebak pasukan koalisi dalam pertempuran jangka panjang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Hingga saat ini, proksi-proksi Iran seperti Hizbullah di Lebanon dan milisi di Irak terus melancarkan serangan presisi ke fasilitas vital, termasuk keberhasilan menjatuhkan pesawat pengisi bahan bakar (refueling) milik Amerika Serikat di Irak Barat.
Jika dukungan internasional tidak segera didapat dan strategi militer tidak diubah, para pengamat sepakat bahwa Amerika Serikat dan Israel akan semakin terkucilkan di kawasan Timur Tengah.





