Trump Terancam Pemakzulan di Tengah Kegagalan Strategi Melawan Iran

WASHINGTON D.C. – Pemerintahan Presiden Donald Trump kini menghadapi tekanan ganda yang luar biasa, baik dari medan tempur Timur Tengah maupun dari dalam negeri Amerika Serikat sendiri.

Kegagalan operasi militer yang dijanjikan selesai dalam waktu singkat, ditambah dengan krisis ekonomi domestik, telah memicu gelombang desakan pemakzulan (impeachment) terhadap sang presiden.

Read More

Krisis internal di Gedung Putih memuncak dengan pengunduran diri Joseph Keren, Direktur National Counter Terrorism Center (NCTC) Amerika Serikat.

Dalam surat terbuka yang bocor ke publik, Keren secara mengejutkan menyatakan bahwa Amerika Serikat berada di ambang kekalahan dalam perang melawan Iran.

Pengamat intelijen Ridwan Habib menilai mundurnya pejabat setingkat Kepala BNPT di Indonesia ini adalah bukti nyata frustrasinya militer AS.

“Amerika kehilangan target strategis dan mulai melakukan pengeboman membabi buta ke fasilitas sipil, yang merupakan pelanggaran hukum perang internasional,” ujar Ridwan dalam wawancaranya dengan Kompas TV.

Di pihak lawan, Iran menunjukkan ketangguhan yang meleset dari prediksi intelijen Barat. Analis militer Wibawa menjelaskan bahwa AS salah perhitungan dengan menganggap kematian pemimpin tertinggi akan melumpuhkan mental tentara Iran.

Sebaliknya, doktrin Mahdafiat yang kuat justru menyatukan rakyat Iran dalam semangat perlawanan jangka panjang.

Secara teknis, Iran mulai mengerahkan rudal balistik terbaru bernama Sejjil yang memiliki kecepatan 13 Mach dengan akurasi tinggi.

Jenderal Ali Muhammad Naini, juru bicara Garda Revolusi Iran (IRGC), menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan perang total selama enam bulan ke depan, bahkan dengan klaim bahwa senjata tercanggih mereka selama satu dekade terakhir belum sepenuhnya dikeluarkan.

Di dalam negeri, pendukung setia Trump dari basis MAGA menyatakan kekecewaan mendalam. Operasi militer berskala besar yang diberi nama Operation Epic Fury dianggap sebagai pengkhianatan terhadap janji kampanye Trump untuk mengakhiri perang.

Berbagai jajak pendapat (CNN, Quinnipiac, NPR) menunjukkan lebih dari 53% warga Amerika menentang perang ini.

Kondisi ekonomi dengan harga kebutuhan pokok yang tetap tinggi semakin memperburuk posisi Trump. Para pemilih muda dan kelas pekerja mulai menyuarakan bahwa Trump lebih mementingkan kepentingan politik luar negeri dan Israel dibandingkan kesejahteraan rakyat Amerika Serikat sendiri.

Upaya diplomasi juga menemui jalan buntu. Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan sempat menelepon Trump selama satu jam untuk menawarkan solusi gencatan senjata, namun tawaran tersebut ditolak.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara tegas menolak permintaan gencatan senjata dari AS dan Israel karena menganggap kedua negara tersebut telah melanggar kesepakatan sebelumnya.

Dosen Hubungan Internasional Universitas BINUS, Tia Mariatul, mencatat bahwa Trump kini semakin terkucilkan.

Ajakan Trump kepada sekutu seperti Inggris dan Australia untuk mengamankan Selat Hormuz mendapat penolakan karena negara-negara tersebut enggan mempertaruhkan aset mereka dalam konflik yang dianggap sebagai kegagalan strategi Amerika sejak awal.

Para pengamat menyimpulkan bahwa jika Trump tidak segera menemukan exit strategy atau mengundurkan diri seperti yang dilakukan Richard Nixon di masa lalu, proses pemakzulan mungkin menjadi satu-satunya jalan yang didorong oleh publik Amerika untuk menghentikan perang yang kian mahal ini.

Related posts