Muslim Yerusalem Putus Asa Saat Perang Menutup Masjid Al-Aqsa Untuk Idul Fitri

YERUSALEM – Ratusan jemaah Muslim terpaksa melaksanakan salat Idul Fitri di jalanan depan gerbang Kota Tua Yerusalem pada Jumat (20/03/2026), setelah otoritas Israel menutup akses ke kompleks Masjid Al-Aqsa dan tempat suci lainnya.

Penutupan ini merupakan bagian dari kebijakan keamanan ketat sejak Amerika Serikat dan Israel memulai kampanye militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Read More

Pembatasan akses ini mencatat sejarah kelam bagi warga Palestina. Para peneliti menyebutkan bahwa ini adalah pertama kalinya Masjid Al-Aqsa ditutup sepenuhnya selama sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga pelaksanaan Idul Fitri sejak aneksasi Israel atas Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Otoritas Israel berdalih bahwa langkah ini diperlukan untuk membatasi potensi korban jiwa dari serangan rudal Iran, dengan melarang kerumunan lebih dari lima puluh orang di seluruh negeri.

Suasana fajar di Yerusalem diwarnai ketegangan saat massa jemaah yang membawa sajadah mencoba mendekati gerbang kota namun dihadang oleh puluhan petugas polisi.

Bentrokan kecil sempat terjadi ketika petugas berupaya memukul mundur massa, bahkan dalam beberapa insiden dilaporkan adanya penggunaan gas air mata. Setelah negosiasi singkat, polisi akhirnya mengizinkan jemaah mengambil posisi di dekat Gerbang Herodes untuk melaksanakan salat di jalanan.

Seorang imam menyampaikan khotbah singkat dari atas bangku plastik, menyerukan jemaah untuk tetap teguh dalam doa di tengah situasi yang mereka sebut sebagai bencana bagi penduduk Yerusalem dan umat Islam dunia.

Pemandangan beberapa ratus jemaah di jalanan ini sangat kontras dengan perayaan Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya, di mana biasanya sekitar 100.000 orang memadati area dalam Masjid Al-Aqsa untuk bersukacita merayakan hari kemenangan.

Meskipun pihak kepolisian Israel mengklaim bahwa tindakan tersebut murni demi keselamatan nyawa warga akibat ancaman pecahan rudal yang jatuh di Kota Tua, warga Palestina menyatakan kekhawatiran yang mendalam.

Banyak yang mencurigai bahwa dalih keamanan ini digunakan untuk mengubah aturan akses atau status quo yang mengatur tempat-tempat suci di Yerusalem secara permanen.

Bagi warga seperti Zeyad Mona dan Wajdi Mohammed Shweiki, momen ini dirasakan sebagai patah hati yang mendalam.

Mereka menggambarkan Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2026 ini sebagai periode yang paling menyakitkan karena hilangnya hak pribadi untuk beribadah di situs tersuci ketiga umat Islam tersebut.

Meski polisi bersikeras komitmen mereka terhadap status quo tetap terjaga, durasi penutupan yang sangat lama ini terus memicu kecurigaan dan kesedihan kolektif bagi masyarakat Palestina di Yerusalem Timur.

Related posts