BAGHDAD – Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) secara resmi memulai proses evakuasi sementara misi diplomatik dan penasihat mereka dari Irak.
Keputusan ini diambil menyusul situasi regional yang kian memanas dan kekhawatiran serius terhadap keselamatan personel akibat perang yang sedang berlangsung di kawasan tersebut.
Kantor berita negara Irak, INA, mengutip seorang pejabat keamanan senior yang mengonfirmasi bahwa penarikan ini merupakan tindakan pencegahan murni.
Misi NATO di Irak, yang perannya terbatas pada pelatihan dan dukungan konsultasi tanpa terlibat dalam operasi tempur, diharapkan akan kembali beroperasi setelah stabilitas regional pulih.
Juru bicara NATO, Allison Hart, menegaskan bahwa penyesuaian kehadiran ini dilakukan demi alasan keamanan, namun dialog politik serta kerja sama praktis dengan pemerintah Irak akan tetap berjalan meskipun ada penarikan fisik sementara.
Laporan dari sumber keamanan di lapangan menyebutkan bahwa seluruh pasukan Italia yang tergabung dalam misi NATO, yang berjumlah sekitar seratus tentara, telah dipindahkan ke Yordania.
Langkah ini diambil di tengah intensitas operasi militer yang dilakukan oleh kelompok Perlawanan Islam di Irak terhadap pangkalan-pangkalan yang mereka anggap sebagai posisi musuh.
Kelompok perlawanan tersebut menyatakan bahwa serangan mereka merupakan bentuk pembalasan atas gugurnya beberapa pejuang mereka dalam rangkaian konfrontasi terakhir di wilayah tersebut.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump melontarkan kritik pedas terhadap para sekutu NATO yang menolak memberikan dukungan militer dalam kampanye melawan Iran.
Trump menyebut aliansi tersebut sebagai “pengecut” dan “macan kertas” yang lemah tanpa kepemimpinan Amerika Serikat. Ia menuduh negara-negara anggota NATO sengaja menghindari partisipasi militer dalam upaya menghentikan program nuklir Iran, namun di saat yang sama terus mengeluhkan lonjakan harga minyak global.
Presiden Trump juga menyoroti keengganan negara-negara NATO untuk membantu misi pembukaan kembali Selat Hormuz, yang ia gambarkan sebagai manuver militer sederhana namun krusial bagi biaya energi dunia.
Kritik tajam ini mencerminkan keretakan diplomatik yang semakin dalam di internal aliansi, di mana banyak negara anggota menunjukkan keengganan internasional yang meningkat untuk terseret lebih jauh ke dalam konflik bersenjata yang meluas di Timur Tengah.
Penarikan sementara ini menjadi indikator kuat betapa rapuhnya posisi aset-aset Barat di Irak saat ini. Dengan meningkatnya aktivitas serangan drone dan rudal dari faksi-faksi lokal, NATO memilih untuk mengambil langkah mundur guna menghindari kerugian personel, meskipun langkah tersebut memicu ketegangan politik dengan Washington yang mengharapkan front persatuan yang lebih solid.





