WASHINGTON – Mantan Menteri Pertahanan sekaligus Direktur CIA, Leon Panetta, melontarkan kritik pedas terhadap Presiden Donald Trump terkait eskalasi konflik di Timur Tengah yang kini memicu krisis energi dunia.
Dalam wawancara telepon dengan The Guardian, Panetta menyebut Trump bertanggung jawab penuh atas memanasnya situasi di Selat Hormuz akibat serangkaian keputusan yang ia nilai naif dan kekanak-kanakan.
Menurut Panetta, Trump bertindak layaknya seorang bocah yang berharap kata-katanya akan otomatis menjadi kenyataan, sebuah sikap yang dianggap sangat tidak pantas bagi seorang presiden dalam mengelola keamanan nasional.
Panetta menegaskan bahwa dampak buruk terhadap Selat Hormuz seharusnya sudah bisa diprediksi sejak awal jika seseorang memutuskan untuk berperang dengan Iran.
Ia merasa heran mengapa pemerintahan Trump tidak memperhitungkan kerentanan jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut, padahal topik mengenai Selat Hormuz selalu menjadi pembahasan utama dalam setiap forum dewan keamanan nasional yang pernah ia ikuti.
Panetta menduga bahwa pemerintahan Trump mungkin meremehkan konsekuensi perang atau terlampau percaya diri bahwa konflik akan berakhir dengan cepat tanpa mengganggu stabilitas pasar minyak internasional.
Perang yang dimulai pada 28 Februari oleh aliansi AS-Israel melawan Iran kini menunjukkan tanda-tanda lepas kendali dan justru menyudutkan posisi Amerika Serikat.
Meski berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tindakan tersebut terbukti tidak meruntuhkan rezim, melainkan justru memperkuat pemerintahan teokratis Iran.
Di dalam negeri, Trump mulai kesulitan mempertahankan citra perangnya seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar yang memicu penurunan popularitas dalam jajak pendapat serta keretakan pada koalisi pemilunya.
Panetta memprediksi bahwa saat ini Trump sedang kelimpungan mencari jalan keluar dari krisis yang ia ciptakan sendiri.
Menurut analisis Panetta, Trump kini terjepit di antara dua pilihan sulit: memperluas skala perang demi membuka paksa Selat Hormuz atau pergi begitu saja dengan menyatakan kemenangan palsu meskipun dunia memahami bahwa misinya telah gagal.
Panetta meyakini bahwa Trump tidak memiliki kesiapan mental maupun strategi untuk menghadapi kenyataan pahit ini, terutama karena Iran tidak akan bersedia melakukan gencatan senjata selama mereka masih memegang kendali atas ancaman di Selat Hormuz.
Kegagalan diplomasi dan militer ini, menurut Panetta, adalah konsekuensi langsung dari kepribadian Trump yang cenderung bertindak sesuka hati tanpa pertimbangan matang.





