TEL AVIV – Laporan tahunan Bank of Israel tahun 2025 yang dikutip oleh Bloomberg mengungkapkan dampak ekonomi yang sangat merusak bagi Israel akibat keterlibatan militer selama dua tahun terakhir.
Data menunjukkan bahwa ekonomi negara tersebut telah menderita kerugian sebesar 177 miliar shekel, atau setara dengan sekitar $57 miliar, yang mewakili 8,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan antara periode 2023 hingga 2025.
Kerugian masif ini sebagian besar disebabkan oleh operasi militer di Gaza serta biaya tinggi yang terkait dengan invasi Israel di Lebanon.
Laporan resmi tersebut bahkan belum mencakup dampak ekonomi dari perang yang saat ini sedang berlangsung melawan Iran, yang kini telah memasuki minggu keempat dengan rangkaian serangan udara dan serangan balasan yang intens.
Guna menopang beban finansial yang terus membengkak, kabinet perang Israel awal bulan ini telah menyetujui revisi anggaran negara tahun 2026 dengan menambahkan dana sebesar $13 miliar khusus untuk membiayai operasional militer.
Selain biaya langsung, perang singkat selama dua belas hari dengan Iran pada Juni tahun lalu saja dilaporkan telah memangkas output ekonomi sebesar 0,3 persen dari PDB nasional.
Selain beban biaya perang, Bank of Israel menyoroti adanya pergeseran pola perdagangan internasional yang mengkhawatirkan bagi stabilitas ekonomi jangka panjang.
Ekspor ke delapan negara Uni Eropa yang dianggap kritis bagi Israel tercatat mengalami penurunan sebesar $1 miliar pada tahun 2024 dan merosot lebih jauh hingga $1,5 miliar pada tahun 2025.
Bank sentral mencatat bahwa pola ini menunjukkan posisi politik negara-negara mitra mulai memengaruhi volume ekspor Israel. Di tengah isolasi perdagangan dari beberapa mitra tradisional, Israel terpaksa mencari aliansi perdagangan baru sementara pasar global terus bereaksi terhadap kondisi geopolitik di Timur Tengah.
Konflik yang dimulai sejak Oktober 2023 ini tidak hanya menghancurkan ekonomi Israel, tetapi juga menimbulkan bencana kemanusiaan yang luar biasa di Gaza.
Laporan tersebut mencatat lebih dari 72.000 warga Palestina tewas, 172.000 lainnya luka-luka, dan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza telah hancur total.
Dengan hancurnya infrastruktur dan ketidakpastian keamanan di perbatasan Lebanon serta Iran, tantangan pemulihan ekonomi Israel di masa depan diprediksi akan menjadi tugas yang sangat berat bagi pemerintah di Yerusalem.





