HONG KONG – Pasar modal di kawasan Asia Pasifik mengalami aksi jual besar-besaran pada Senin (23/03/2026) menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Penurunan tajam ini dipicu oleh ultimatum Presiden Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Indeks patokan Korea Selatan, KOSPI, memimpin kejatuhan dengan anjlok sebesar 6,5 persen, sementara indeks Nikkei 225 Jepang merosot 3,5 persen dan Indeks Hang Seng di Hong Kong terjun bebas lebih dari 4 persen. Pelemahan juga merambat ke pasar Australia dan Selandia Baru, meskipun dengan skala yang lebih moderat di bawah satu persen.
Sentimen negatif ini menjalar hingga ke bursa Eropa dan Amerika Serikat, di mana indeks FTSE 100 London dan DAX 40 Frankfurt dibuka melemah signifikan pada perdagangan pagi.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 menunjukkan kerugian yang cukup dalam sebelum bel pembukaan pasar reguler.
Ketidakpastian semakin diperparah oleh ancaman balasan Teheran yang memperingatkan akan menutup total Selat Hormuz dan menargetkan fasilitas energi serta air di seluruh kawasan jika Trump menindaklanjuti ancamannya.
Berdasarkan waktu unggahan Trump di Truth Social, batas waktu ultimatum empat puluh delapan jam tersebut diperkirakan akan berakhir pada Senin malam waktu GMT, menciptakan tekanan waktu yang sangat krusial bagi stabilitas pasar global.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent terus menunjukkan volatilitas tinggi dan bertahan di level $112,80 per barel dengan kecenderungan terus meningkat.
Sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, harga minyak dunia telah melonjak lebih dari 50 persen, dan para analis memperingatkan kemungkinan harga akan menembus $150 hingga $200 per barel jika blokade terhadap seperlima pasokan energi dunia di Selat Hormuz tetap berlanjut.
Meskipun saat ini sejumlah kecil kapal berbendera China, India, dan Pakistan masih dapat melintas, penutupan efektif jalur air tersebut telah memicu kekhawatiran akan krisis energi global jangka panjang yang tidak terelakkan.
Di tengah situasi yang genting, Presiden Trump telah melakukan koordinasi dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, di mana kedua pemimpin sepakat bahwa pemulihan akses di Selat Hormuz adalah hal esensial bagi stabilitas pasar energi.
Namun, pasar tetap diliputi keraguan akibat pesan-pesan yang bertentangan dari Gedung Putih; beberapa jam sebelum ultimatum dikeluarkan,
Trump sempat mengeklaim bahwa tujuan militer hampir tercapai, sementara militer Israel justru menyatakan telah menyiapkan rencana operasi untuk setidaknya tiga minggu ke depan. Ketidakselarasan informasi ini menambah kekhawatiran investor bahwa konflik di Asia Barat ini masih jauh dari kata berakhir.





