Serangan Masif IRGC Lumpuhkan Pangkalan AS dan Infrastruktur Militer Israel

TEHERAN – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan pelaksanaan gelombang ke-83 dari Operasi True Promise 4 pada Jumat (27/03/2026).

Operasi skala penuh ini melibatkan serangan terkoordinasi antara pasukan Dirgantara dan Angkatan Laut IRGC menggunakan kombinasi rudal presisi jarak jauh serta drone satu arah yang canggih.

Read More

Pernyataan resmi IRGC menegaskan bahwa target utama serangan kali ini meliputi fasilitas penyimpanan minyak serta posisi militer strategis di Asdod, termasuk unit tentara pendudukan Israel yang ditempatkan di pemukiman Madaiin.

Serangan balasan ini juga menyasar jaringan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk pangkalan Al Dhafra, Al-Udeid, serta pusat pertukaran intelijen militer AS.

IRGC mengeklaim telah berhasil menghancurkan depot bahan bakar jet tempur, hanggar pemeliharaan pesawat angkut di pangkalan Ali Al-Salem, hingga fasilitas perbaikan sistem pertahanan Patriot di pangkalan Sheikh Isa.

Penggunaan rudal dengan banyak hulu ledak (MIRV) dan drone penghancur dalam operasi ini disebut mencapai keberhasilan total dengan tingkat presisi yang sangat tinggi, memberikan pukulan telak bagi postur pertahanan udara lawan.

Juru bicara angkatan bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, menyatakan melalui televisi pemerintah bahwa pasukan Amerika Serikat telah menderita kerugian yang sangat signifikan sejak dimulainya konflik pada 28 Februari lalu.

Shekarchi mengeklaim bahwa setidaknya enam ratus hingga delapan ratus tentara Amerika tewas dan hampir lima ribu lainnya terluka dalam rangkaian pembalasan Iran. Ia bahkan menjuluki militer AS sebagai “macan kertas” setelah tujuh belas pangkalan militer mereka di wilayah tersebut dilaporkan hancur atau tidak lagi berfungsi secara operasional.

Laporan terbaru dari The New York Times memperkuat gambaran mengenai dampak destruktif serangan Iran yang telah membuat banyak instalasi militer AS di Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi menjadi tidak layak huni.

Kerusakan parah pada infrastruktur radar, sistem komunikasi, dan lapangan terbang telah memaksa pasukan AS untuk membubarkan diri dan beroperasi secara darurat dari lokasi sipil seperti hotel dan gedung perkantoran.

Kondisi desentralisasi ini mengakibatkan degradasi efektivitas komando dan kendali militer AS di Asia Barat, di mana sebagian personel bahkan harus direlokasi hingga ke Eropa demi menghindari ancaman rudal berkelanjutan yang terus menghujani wilayah tersebut.

Related posts