SANAA – Biro politik gerakan Ansar Allah di Yaman memperbarui komitmen solidaritasnya terhadap Republik Islam Iran dan seluruh faksi perlawanan regional dalam menghadapi agresi militer Amerika Serikat-Israel.
Melalui pernyataan resmi, kelompok tersebut memuji keteguhan Teheran yang dianggap tengah menulis “epik iman, kebebasan, dan martabat” atas nama seluruh bangsa Muslim.
Ansar Allah menyerukan urgensi persatuan di antara negara-negara Arab dan Islam untuk membentuk posisi kolektif, baik di tingkat pemerintahan maupun rakyat, guna mendukung perjuangan Palestina yang adil.
Pernyataan ini memberikan penekanan khusus pada situasi kemanusiaan di Gaza dan Masjid al-Aqsa, di mana penduduknya terpaksa merayakan Idul Fitri di bawah pengepungan ketat dan kelaparan yang sengaja diciptakan oleh pihak Zionis dan sekutunya.
Anggota Biro Politik Ansar Allah, Mohammed al-Bukhaiti, menegaskan dalam wawancara dengan Al Mayadeen bahwa Yaman telah mengambil keputusan bulat untuk mendukung Iran secara penuh.
Al-Bukhaiti menyatakan bahwa koordinasi dengan Poros Perlawanan, khususnya Teheran, telah mencapai tahap maksimal dan keterlibatan aktif Sanaa dalam medan tempur hanyalah masalah waktu.
Pemimpin gerakan Ansar Allah, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi, sebelumnya telah memperingatkan pada 5 Maret bahwa pasukannya siap melakukan intervensi kapan pun diperlukan.
Dalam pidato Ramadhan-nya, ia menegaskan bahwa “jari-jari pejuang Yaman sudah berada di pelatuk,” menanggapi ambisi Amerika Serikat dan Israel yang dinilai secara terbuka berusaha membentuk kembali peta Asia Barat demi proyek “Israel Raya” melalui dominasi dan tirani global.
Dukungan politik ini juga tercermin dalam aksi massa besar-besaran yang membanjiri jalan-jalan utama di Yaman selama Hari Quds Internasional.
Demonstrasi tersebut tidak hanya menyuarakan dukungan bagi Iran, tetapi juga memuji keberanian Hizbullah di Lebanon yang serangannya dianggap telah menjerumuskan militer Israel ke dalam ketidakpastian strategis.
Rakyat Yaman melalui aksi tersebut mengirimkan pesan kuat bahwa mereka berdiri tegak bersama para pejuang di Lebanon dan Irak dalam satu front yang terpadu.
Dengan meningkatnya intensitas konfrontasi di kawasan, posisi strategis Yaman di Laut Merah dan kemampuan rudal mereka dipandang sebagai faktor krusial yang dapat memperluas beban militer bagi Amerika Serikat dan Israel jika perang terus berlanjut.





