DOHA – Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengeluarkan pernyataan keras terkait serangan rudal yang menghantam pusat industri gas terbesar di dunia, Ras Laffan.
Sheikh Mohammed menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bukti nyata yang membantah klaim Teheran bahwa operasi militer mereka di Teluk hanya menyasar kepentingan Amerika Serikat.
Menurutnya, klaim Iran yang terus-menerus menyatakan bahwa serangan ini hanya ditujukan pada kepentingan Amerika adalah pernyataan yang tidak dapat diterima dan telah terbantahkan oleh fakta di lapangan, di mana fasilitas gas alam milik Negara Qatar justru menjadi target utama.
Dampak ekonomi dari lumpuhnya fasilitas ini sangat masif dan mengancam stabilitas pasokan energi dunia. CEO QatarEnergy, Saad Al-Kaabi, mengungkapkan bahwa serangan tersebut telah melumpuhkan sekitar tujuh belas persen kapasitas ekspor LNG Qatar dengan estimasi kerugian pendapatan tahunan mencapai dua puluh miliar dolar.
Kerusakan parah terjadi pada dua dari empat belas unit pemrosesan LNG serta satu fasilitas gas-ke-cair yang pembangunannya menelan biaya puluhan miliar dolar.
Akibat kerusakan ini, Qatar diperkirakan akan kehilangan produksi sebesar dua belas koma delapan juta ton LNG per tahun selama tiga hingga lima tahun ke depan, yang memaksa perusahaan untuk mempertimbangkan status force majeure pada kontrak jangka panjang dengan negara-negara besar seperti Italia, Belgia, Korea Selatan, dan Tiongkok.
Reaksi pasar internasional terhadap situasi di Ras Laffan terjadi secara instan dan ekstrem, di mana harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga sepuluh persen sebelum stabil di level seratus dua belas dolar per barel.
Di saat yang sama, harga gas di pasar Eropa meroket hingga tiga puluh lima persen karena kekhawatiran akan terhentinya pasokan dalam jangka panjang.
Saad Al-Kaabi menekankan bahwa produksi tidak akan mungkin dimulai kembali sebelum ada penghentian permusuhan di kawasan tersebut, sembari menyatakan kekecewaannya atas serangan yang dilakukan oleh sesama negara Muslim di tengah bulan suci Ramadhan.
Situasi ini semakin memperparah eskalasi regional yang melibatkan infrastruktur energi di berbagai negara Teluk Arab.
Serangan terhadap Qatar merupakan bagian dari gelombang pembalasan setelah sebelumnya Israel menyerang ladang gas Pars milik Iran. Selain di Qatar, fasilitas kilang di Yanbu, Arab Saudi, dan sebuah kilang di Kuwait juga dilaporkan terkena serangan drone pada waktu yang hampir bersamaan.
Meskipun negara-negara Arab dan Islam telah mengeluarkan seruan bersama agar Teheran menghentikan agresinya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru memperingatkan bahwa akan ada tindakan tanpa pengekangan jika infrastruktur nasional Iran kembali menjadi target serangan di masa depan.





