Dampak Perang Iran-Israel Meluas, KBRI Abu Dhabi Tetapkan Status Siaga 3 bagi WNI di Uni Emirat Arab

JAKARTA – Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memberikan dampak langsung ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA). Menyusul serangan balasan Iran yang menyasar sejumlah objek vital, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi resmi menetapkan status Siaga 3 bagi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah tersebut.

Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Yuda Nugraha, mengonfirmasi bahwa situasi di Dubai dan Abu Dhabi saat ini dalam tingkat kewaspadaan tinggi setelah gelombang serangan rudal dan drone balistik dilaporkan menyasar wilayah udara UEA pada 1 Maret 2026.

Serangan Udara Masif dan Penutupan Bandara

Otoritas UEA melaporkan sebanyak 165 rudal balistik, dua rudal jelajah, dan 541 drone telah dikirimkan oleh Iran menuju wilayah tersebut. Meski sebagian besar berhasil diintersep, serpihan atau debri dari hasil intersep tersebut telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka. Hingga laporan terakhir, tercatat tiga orang meninggal dunia (warga negara Pakistan, Bangladesh, dan Nepal) serta 58 orang lainnya luka-luka.

Serangan ini juga berdampak fatal pada mobilitas udara global. Bandara Internasional Dubai dan bandara komersial lainnya terpaksa menghentikan operasional menyusul penutupan wilayah udara oleh otoritas penerbangan sipil UEA (GCAA).

Kondisi 81.000 WNI di UEA

Dubes Yuda Nugraha memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban jiwa maupun luka-luka akibat serangan tersebut. Namun, tercatat ada 21 WNI yang terdampak langsung akibat pembatalan penerbangan, di antaranya 12 orang di Abu Dhabi dan 9 orang di Dubai.

“Kami telah memberikan bantuan dan memastikan mereka mendapatkan penanganan serta akomodasi yang layak selama tertahan di bandara,” ujar Yuda Nugraha dalam wawancara bersama Kompas TV.

Langkah Kontigensi dan Himbauan Keamanan

Merespons situasi darurat ini, KBRI Abu Dhabi dan KJRI Dubai telah melakukan beberapa langkah konkret:

  1. Status Siaga 3: Menetapkan status darurat untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

  2. Crisis Response Team: Membentuk tim khusus yang terdiri dari unsur KBRI, KJRI, dan komunitas masyarakat Indonesia untuk pelayanan terpadu.

  3. Rencana Evakuasi: Menyiapkan skenario terburuk (worst case scenario) termasuk rute evakuasi jika situasi meningkat ke Siaga 1.

  4. Town Hall Meeting Virtual: Melakukan sosialisasi langsung secara daring kepada 81.000 WNI untuk memberikan pembaruan situasi keamanan agar masyarakat tetap tenang namun waspada.

Batasi Aktivitas Non-Esensial

KBRI mengimbau seluruh WNI di UEA untuk meningkatkan kewaspadaan, memonitor informasi resmi dari otoritas setempat, dan segera melakukan lapor diri. WNI juga diminta untuk:

  • Mengurangi pergerakan di luar rumah untuk hal-hal yang tidak penting.

  • Menjauhi jendela atau kaca guna menghindari risiko serpihan ledakan.

  • Mematuhi kebijakan pemerintah setempat, termasuk instruksi belajar daring bagi sekolah dan skema Work From Home (WFH) bagi pekerja swasta.

“Masyarakat harus tetap tenang namun waspada. Kami sudah menyiapkan rencana kontigensi untuk skenario terburuk demi menjamin keselamatan seluruh warga kita di sini,” tutup Yuda.

Bagi WNI yang membutuhkan bantuan darurat, KBRI telah menyiagakan nomor hotline yang dapat dihubungi kapan saja selama situasi krisis berlangsung.

Related posts