Kecil Kemungkinan Perang Dunia III Pecah di Timur Tengah, Ini Alasannya

JAKARTA – Ketegangan yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran terus memicu kekhawatiran global akan pecahnya Perang Dunia III. Namun, Dian Wirengjurit, pengamat hubungan internasional sekaligus mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran (2012–2016), menilai potensi eskalasi menuju perang skala besar sebenarnya sangat kecil.

Dalam sebuah diskusi mendalam di kanal SINDOnews, Dian memaparkan bahwa dinamika di lapangan saat ini lebih didorong oleh kepentingan pragmatis dan ekonomi daripada sekadar konfrontasi militer.

1. Pertaruhan Ekonomi Negara-Negara Arab Modern

Dian menekankan bahwa stabilitas kawasan Timur Tengah saat ini sangat bergantung pada kemajuan ekonomi negara-negara tetangga Iran, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Menurutnya, negara-negara ini tidak akan membiarkan wilayah mereka menjadi medan tempur yang merusak investasi global.

“Negara-negara Arab di sekeliling Iran sudah maju dan sejahtera. Jika rudal terbang melewati wilayah mereka, atau bahkan mengenai ikon seperti Burj Khalifa, seluruh ekspatriat akan pulang dan bisnis minyak serta gas akan lumpuh,” ungkap Dian. Ia menilai para pemimpin di kawasan tersebut tidak akan mau “mendapat getah” dari konflik yang merugikan pembangunan mereka.

2. Efektivitas Diplomasi “Leverage” China

Salah satu poin krusial yang disoroti Dian adalah pergeseran kekuatan diplomasi. China kini muncul sebagai mediator yang jauh lebih berpengaruh dibandingkan organisasi seperti OKI atau lembaga Barat lainnya.

Dian menjelaskan bahwa China memiliki leverage (daya tawar) ekonomi yang kuat. “Cina bisa mendamaikan karena dia punya leverage teknologi dan ekonomi. Cina bisa bilang ke Saudi dan Iran: ‘Gua beli minyak lu, tapi lu damai’. Masalah uang kecil buat Cina,” jelasnya. Pendekatan pragmatis ini terbukti berhasil mempertemukan pimpinan Hamas dan Fatah di Beijing serta menormalisasi hubungan Saudi-Iran.

3. Teka-teki Nuklir Iran dan Fakta Lapangan

Terkait isu nuklir yang sering menjadi pemantik ketegangan, Dian Wirengjurit meragukan klaim-klaim provokatif yang beredar. Ia mencatat bahwa Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) belum pernah menemukan bukti fisik adanya program senjata nuklir di Iran, meski tim ahli mereka telah diberikan akses verifikasi.

Dian juga menyoroti kejanggalan teknis pada isu serangan situs nuklir di Isfahan. “Jika benar situs nuklir hancur dibom, dampaknya akan seperti Chernobyl atau Fukushima. Radiasinya akan terdeteksi ke mana-mana. Namun nyatanya tidak ada radiasi masif, sehingga klaim kehancuran nuklir itu patut dipertanyakan,” tambahnya.

4. Keseimbangan Kekuatan Global

Iran dipandang sebagai mitra strategis bagi Rusia dan China, terutama dalam sektor energi. Dian berargumen bahwa jika Amerika Serikat melakukan serangan dominan, Rusia dan China tidak akan tinggal diam karena hal itu mengancam kepentingan global mereka.

Keseimbangan kekuatan (balance of power) inilah yang menurut Dian akan menahan semua pihak untuk tidak melangkah terlalu jauh ke dalam perang terbuka.

Related posts