IRGC Sangkal Serangan Pabrik Desalinasi Kuwait dan Tuding sabotase Israel

KUWAIT  – Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan bantahan keras atas keterlibatan mereka dalam serangan yang melumpuhkan pabrik desalinasi air di Kuwait pada Jumat waktu setempat.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan oleh media pemerintah, Teheran justru menuding entitas Israel berada di balik “tindakan agresi pengecut” tersebut dengan tujuan sistematis untuk menabur perselisihan dan ketidakstabilan di kawasan Asia Barat.

Read More

Insiden ini menandai titik nadir baru dalam perang narasi antara Teheran dan poros AS-Israel, di mana fasilitas infrastruktur sipil vital di negara-negara Teluk kini menjadi sasaran sabotase misterius yang mengancam ketahanan energi dan air regional.

Otoritas Kuwait sebelumnya mengonfirmasi bahwa fasilitas desalinasi mereka mengalami kerusakan material signifikan pada beberapa komponen kunci akibat serangan yang belum ditentukan jenis senjatanya.

IRGC segera merespons dengan memperingatkan negara-negara tetangga agar tetap waspada terhadap upaya provokasi yang dirancang untuk menyeret mereka ke dalam konflik regional yang lebih luas.

Teheran menegaskan kembali bahwa operasi militer mereka secara ketat hanya menargetkan pangkalan serta personel Amerika Serikat dan situs keamanan Israel, sembari mengklaim bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil negara Arab merupakan bagian dari strategi “bendera palsu” (false flag) pihak lawan.

Pola serangan terhadap fasilitas vital di wilayah Teluk ini bukan pertama kalinya terjadi dalam satu pekan terakhir. Pada Senin lalu, sebuah pembangkit listrik dan desalinasi di Kuwait juga dihantam serangan yang merenggut nyawa seorang pekerja asal India dan menyebabkan kerusakan struktural berat.

Meskipun otoritas Kuwait sempat mengaitkan insiden tersebut dengan Iran, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyebut tuduhan itu sebagai bukti kebobrokan musuh yang ingin mengalihkan perhatian dunia dari serangan Israel terhadap situs-situs sipil di dalam wilayah Iran.

Ketegangan serupa sempat mencuat menyusul kebakaran besar di kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco pada awal Maret, serta serangan pesawat tak berawak terhadap tangki bahan bakar di Pelabuhan Salalah, Oman.

Pejabat senior keamanan Iran mengklaim telah mengidentifikasi keterlibatan agen proksi yang diarahkan oleh Israel melalui negara Arab tertentu yang memiliki hubungan dekat dengan Tel Aviv.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menekankan bahwa rentetan insiden ini merupakan skema provokasi yang disengaja agar negara-negara kawasan terjebak dalam eskalasi perang besar-besaran yang dipicu oleh kepentingan asing.

Bantahan IRGC ini muncul di tengah kekhawatiran global akan terputusnya pasokan kebutuhan dasar di wilayah Teluk yang sangat bergantung pada teknologi desalinasi untuk air minum.

Dengan semakin seringnya infrastruktur energi dan air menjadi target sabotase, negara-negara di kawasan kini berada dalam posisi sulit untuk membedakan antara serangan balasan yang sah dan operasi intelijen yang menyesatkan.

Di saat Washington terus memperkuat kehadiran militernya, Teheran tetap bersikeras bahwa stabilitas regional hanya dapat dipulihkan jika negara-negara Arab memaksa pasukan asing mundur dan menolak agenda provokasi “bendera palsu” yang dijalankan oleh musuh-musuh mereka.

Related posts