Gema Idul Fitri di Tengah Bombardir AS-Israel, Ribuan Warga Iran Gelar Shalat Id di Bawah Bayang-Bayang Perang

TEHERAN – Ribuan umat Muslim di Iran melaksanakan shalat Idul Fitri pada Sabtu (21/03/2026) untuk menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan. Perayaan hari kemenangan tahun ini berlangsung dengan latar belakang konflik bersenjata yang kian memanas, di mana ibu kota dan beberapa kota besar lainnya terus menjadi target serangan udara.

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Syiah, Iran merayakan Idul Fitri sehari setelah sebagian besar negara Muslim Sunni lainnya. Sejak fajar menyingsing, kerumunan jemaah mulai memadati Masjid Agung Imam Khomeini di pusat kota Teheran. Karena kapasitas masjid yang terbatas, ribuan orang terpaksa meluapkan barisan shalat hingga ke area jalanan di sekitar kompleks masjid, tetap teguh beribadah meskipun risiko serangan udara mengintai setiap saat.

Read More

Situasi Keamanan di Ibu Kota dan Isfahan

Kondisi di Teheran dilaporkan sangat mencekam, mengingat ibu kota Iran ini telah menjadi sasaran pemboman hampir setiap hari sejak aliansi Amerika Serikat-Israel meluncurkan kampanye militer pada akhir Februari lalu. Serangan-serangan tersebut telah menewaskan sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, yang memicu ketegangan nasional pada titik tertinggi.

Kantor berita Fars melaporkan bahwa pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, serangan udara kembali menghantam beberapa distrik di Teheran dan wilayah pinggirannya. Selain ibu kota, pusat kota Isfahan juga dilaporkan menjadi target serangan semalam. Meski demikian, semangat jemaah untuk merayakan Idul Fitri tidak surut, yang terlihat dari tayangan televisi pemerintah mengenai pertemuan doa massal di berbagai kota lainnya seperti Arak di wilayah tengah, Zahedan di tenggara, hingga kota pelabuhan Abadan di barat.

Pesan Keteguhan di Tengah Krisis

Pelaksanaan shalat Idul Fitri tahun 2026 ini dipandang sebagai simbol keteguhan rakyat Iran di hadapan krisis keamanan yang paling parah dalam beberapa dekade terakhir. Televisi pemerintah terus menyiarkan gambar-gambar kerumunan massa yang khusyuk berdoa, menunjukkan kontras yang tajam antara kehancuran akibat bombardir dan solidaritas spiritual masyarakat.

Di tengah gempuran yang merusak infrastruktur penting, momen Idul Fitri menjadi ruang bagi warga untuk memperkuat dukungan moral kolektif. Otoritas setempat tetap memberlakukan status siaga tinggi selama pelaksanaan ibadah guna memitigasi potensi korban jiwa jika terjadi serangan mendadak di tengah kerumunan jemaah yang sedang terkonsentrasi di pusat-pusat kota.

Related posts