BEIRUT – Gerakan Hizbullah Lebanon mengumumkan dimulainya fase eskalasi militer baru yang diberi sandi “Operasi Khaybar 2” sebagai respons terhadap agresi darat dan udara Israel yang terus meluas.
Dalam serangkaian serangan terkoordinasi yang diluncurkan pada Selasa malam, kelompok perlawanan tersebut menghujani wilayah utara Israel dengan salvo roket dan kawanan drone bunuh diri, menargetkan infrastruktur militer sensitif termasuk pangkalan pemantauan angkatan laut strategis Stella Maris dan pangkalan Nasherim di tenggara Haifa.
Operasi ini diklaim sebagai bagian dari strategi pertahanan “Jerami yang Dimakan” guna melindungi kedaulatan Lebanon dan warga sipil dari pemboman Israel yang telah menjangkau hingga pusat kota Beirut.
Laporan militer dari lapangan menunjukkan tingkat koordinasi yang tinggi, di mana sedikitnya delapan operasi tempur dilancarkan secara simultan tepat pada pukul 20.00 waktu setempat.
Selain menghantam pangkalan angkatan laut, unit artileri dan udara Hizbullah juga menargetkan Pangkalan Tefen di timur Akka serta fasilitas militer di daerah Krayot.
Secara terpisah, empat pemukiman utama di wilayah utara Shlomi, Shomera, Zar’it, dan Nahariya turut menjadi sasaran hujan roket yang memaksa sistem pertahanan udara Israel bekerja ekstra keras di tengah gelombang penetrasi drone yang dilaporkan memasuki wilayah udara Palestina yang diduduki.
Di pihak Israel, saluran berita Kanal 12 melaporkan adanya kegagalan deteksi awal oleh militer terhadap pergerakan Hizbullah, yang menyebabkan peringatan dini tidak berbunyi sebelum serangan roket pertama menghantam.
Media lokal menggambarkan situasi tersebut sebagai “20 menit tembakan roket tanpa henti” yang mengguncang wilayah Al-Jalil Atas hingga Haifa, dengan total lebih dari 40 proyektil dan drone yang meluncur dari Lebanon Selatan.
Para mantan pejabat intelijen Israel dalam wawancara dengan Kanal 11 mengakui bahwa front Lebanon kini merepresentasikan medan tempur yang jauh lebih kompleks dan berlapis dibandingkan arena konflik lainnya di kawasan tersebut.
Hizbullah menegaskan bahwa peluncuran Khaybar 2 merupakan kelanjutan dari operasi sebelumnya pada pertengahan Maret, dengan penekanan khusus pada penghancuran target-target militer dan tank Merkava guna mencegah manuver darat Israel lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon.
Dalam pernyataannya, kelompok tersebut mengklaim bahwa serangan mereka murni bersifat militer sebagai bentuk pembalasan atas serangan Israel yang sering kali mengenai pemukiman sipil.
Eskalasi ini menandai pergeseran taktis yang signifikan, di mana Hizbullah mulai menunjukkan kemampuan untuk meluncurkan serangan jenuh (saturation attacks) yang mampu menembus lapisan pertahanan udara paling canggih di dunia.





