DUBAI – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meluapkan rasa frustrasinya terhadap para sekutu Barat yang dianggap enggan memberikan dukungan penuh dalam kampanye militer melawan Iran, di tengah guncangan ekonomi global yang mengirim harga bahan bakar melampaui 4 dolar AS per galon.
Dalam pernyataan tajam melalui media sosial pada Selasa waktu setempat, Trump menuntut negara-negara sekutu untuk mengamankan pasokan minyak mereka sendiri setelah penutupan Selat Hormuz oleh Teheran memicu kekacauan pasar internasional.
Kemarahan Washington memuncak seiring dengan meningkatnya intensitas pertempuran yang kini telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa sejak agresi gabungan AS-Israel dimulai satu bulan lalu.
Konflik mencapai titik didih baru setelah serangan udara AS menghantam pinggiran kota Isfahan, wilayah yang dikenal sebagai jantung fasilitas pengayaan nuklir Iran.
Rekaman visual yang dibagikan langsung oleh Trump menunjukkan ledakan dahsyat di zona pegunungan, yang menurut para analis kemungkinan besar merupakan tempat penyimpanan cadangan uranium dengan tingkat kemurnian tinggi mendekati level senjata nuklir.
Sebagai balasan, militer Teheran melancarkan serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak Kuwait di perairan Dubai, menggunakan pesawat tak berawak yang memicu kobaran api hebat dan kepanikan di pusat bisnis Uni Emirat Arab tersebut.
Ketegangan militer ini telah melumpuhkan jalur perdagangan energi global, di mana harga minyak mentah Brent melonjak hingga 106 dolar AS per barel, meningkat lebih dari 45 persen sejak perang pecah pada akhir Februari.
Trump memberikan ultimatum keras bahwa jika gencatan senjata tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali, militer Amerika Serikat akan memperluas target serangannya ke pusat ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg serta infrastruktur vital lainnya seperti pabrik desalinasi.
Ancaman ini muncul bersamaan dengan gelombang serangan baru Israel yang menghantam jantung kota Teheran dan infrastruktur Hizbullah di Beirut, Lebanon.
Di tengah eskalasi yang kian tak terkendali, keretakan di internal aliansi Barat semakin nyata setelah Prancis secara tegas melarang pesawat pemasok militer tujuan Israel melintasi wilayah udaranya.
Langkah ini memicu reaksi keras dari Gedung Putih yang memperingatkan bahwa Washington akan mengingat sikap “tidak membantu” dari Paris tersebut.
Situasi serupa terjadi di Italia, di mana Roma menolak memberikan izin penggunaan pangkalan udara Sigonella bagi pembom Amerika yang menuju Timur Tengah, meskipun pemerintah Italia kemudian berusaha meredakan ketegangan dengan mengklaim hubungan bilateral tetap solid.
Krisis kemanusiaan pun terus memburuk secara eksponensial di seluruh kawasan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat menyusul tewasnya tiga pasukan penjaga perdamaian di Lebanon selatan di tengah invasi darat Israel.
Laporan terbaru mencatat lebih dari 1.900 warga Iran tewas, sementara Lebanon menghadapi eksodus massal dengan lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal.
Dengan hilangnya nyawa belasan tentara AS dan puluhan personel militer Israel, perang ini kini berada pada titik balik berbahaya yang mengancam stabilitas geopolitik dunia secara permanen.





