ADEN – Ketegangan di Timur Tengah kini terancam memasuki babak baru yang lebih berbahaya setelah gerakan Houthi di Yaman menyatakan kesiapan militer penuh untuk kembali menyerang jalur pelayaran internasional di Laut Merah.
Salah satu pemimpin senior Houthi menegaskan bahwa kelompoknya tengah memantau perkembangan situasi dan menunggu instruksi dari kepemimpinan tertinggi untuk menentukan “jam nol” aksi serangan.
Langkah ini dipandang sebagai bentuk solidaritas terhadap Teheran dan diprediksi akan memperparah krisis minyak serta ekonomi global yang sebelumnya telah terguncang akibat penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran.
Target utama yang menjadi perhatian dunia adalah Selat Bab Al-Mandeb, sebuah jalur sempit strategis yang dikenal sebagai “Gerbang Air Mata” di lepas pantai Yaman. Sebagai pintu masuk selatan menuju Terusan Suez, selat ini merupakan urat nadi bagi distribusi minyak mentah dan bahan bakar dari Teluk menuju wilayah Mediterania serta Asia.
Dengan lebar hanya dua puluh sembilan kilometer pada titik tersempitnya, gangguan di wilayah ini akan melumpuhkan rute komoditas lintas laut paling kritis di dunia.
Sumber militer Iran bahkan telah mengisyaratkan bahwa front baru di Bab Al-Mandeb akan segera dibuka jika terjadi serangan lebih lanjut terhadap wilayah kedaulatan atau pulau-pulau milik Iran.
Meskipun sekutu Iran di Lebanon dan Irak telah lebih dulu terjun dalam pertempuran yang dipicu oleh agresi Amerika Serikat dan Israel, kelompok Houthi yang bersenjata lengkap sejauh ini masih menahan diri dari keterlibatan langsung.
Sejumlah diplomat dan analis menilai bahwa Houthi tengah berkoordinasi erat dengan Teheran untuk menentukan momentum yang tepat guna memberikan tekanan maksimal terhadap kekuatan Barat.
Amr Al-Bidh, anggota senior Dewan Transisi Selatan Yaman, berpendapat bahwa Houthi hanya akan bergerak saat Iran benar-benar membutuhkan dukungan militer mereka di medan tempur maritim sekitar Semenanjung Arab.
Sejarah mencatat bahwa Houthi memiliki kemampuan besar untuk menyebabkan kekacauan navigasi global, seperti yang mereka lakukan sebagai bentuk dukungan bagi Palestina selama puncak perang Gaza.
Serangan-serangan tersebut sempat terhenti setelah gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat pada Oktober 2025, namun kesiapan militer saat ini menunjukkan bahwa periode tenang tersebut mungkin akan segera berakhir.
Jika Houthi benar-benar membuka front di Laut Merah, dunia akan menghadapi tantangan logistik ganda di mana dua jalur air paling strategis, Hormuz dan Bab Al-Mandeb, berada di bawah ancaman blokade total yang dapat melambungkan harga energi ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.





