GAZA – Organisasi medis internasional Doctors Without Borders (MSF) mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi layanan kesehatan di Jalur Gaza yang berada di ambang kolaps total akibat blokade sistematis oleh otoritas Israel.
Dr. Randa Abu El-Khair Masoud, penasihat medis MSF, mengungkapkan bahwa sejak 1 Januari lalu, pihaknya sama sekali tidak dapat memasukkan pasokan medis ke kantong wilayah tersebut.
Pembatasan ini telah menyebabkan kelangkaan obat-obatan esensial hingga ke titik kritis, yang diprediksi akan memicu lonjakan kematian yang seharusnya dapat dicegah, terutama di kalangan pasien penderita penyakit tidak menular.
Data internal MSF menunjukkan bahwa hampir 50 persen stok obat-obatan penting untuk penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, gangguan tiroid, dan penyakit pernapasan kini berada pada level yang sangat rendah.
Akibat kelangkaan ini, MSF terpaksa mengambil keputusan menyakitkan dengan menghentikan penerimaan pasien baru untuk program penyakit tidak menular dan hanya memprioritaskan pengobatan bagi pasien yang sudah terdaftar.
Tanpa akses terhadap perawatan yang tepat, para ahli medis memperingatkan bahwa kondisi pasien dengan penyakit penyerta akan memburuk secara drastis dalam waktu singkat.
Selain krisis obat-obatan, fasilitas kesehatan di Gaza juga menghadapi kekurangan pasokan medis dasar yang fatal seperti kain kasa, kompres, dan peralatan perawatan luka.
Kekurangan ini berdampak langsung pada penanganan korban luka bakar dan pasien pasca-operasi yang jumlahnya terus melonjak.
Masoud mengenang bahwa selama puncak blokade pada pertengahan 2025, tim medis bahkan terpaksa melakukan sterilisasi kain kasa tidak steril sebagai upaya terakhir suatu prosedur yang sangat berisiko memicu infeksi massal—dan kini titik nadir tersebut kembali terulang.
Kondisi peralatan medis di lapangan juga dilaporkan berada dalam “tekanan besar” karena tidak ada unit baru maupun suku cadang yang diizinkan masuk sepanjang tahun ini.
Malfungsi alat kesehatan menjadi pemandangan harian yang menghambat kerja tim medis di tengah gempuran militer yang terus berlangsung.
Meskipun tim lapangan bekerja tanpa henti, MSF menegaskan bahwa tindakan darurat sementara tidak akan pernah bisa menggantikan akses logistik medis yang konsisten dan berkelanjutan bagi penduduk yang terperangkap di zona konflik.
Sejak pecahnya agresi pada Oktober 2023, lebih dari 72.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, telah gugur dalam apa yang disebut oleh banyak pengamat sebagai genosida di Gaza.
Sebagian besar wilayah kantong tersebut kini telah berubah menjadi reruntuhan, menyebabkan seluruh populasi mengungsi tanpa jaminan akses kesehatan yang memadai.
Pelanggaran gencatan senjata yang terus terjadi, termasuk penghancuran bangunan sipil di Gaza timur, semakin mempersempit ruang gerak kemanusiaan dan memperparah penderitaan jutaan warga sipil yang kini hanya bergantung pada pasokan medis yang kian menipis.





