Militer Israel Perluas Invasi Darat dan Bombardir Beirut di Tengah Perlawanan Sengit Hizbullah

BEIRUT – Memasuki hampir satu bulan perang di Asia Barat, militer Israel terus menggencarkan serangan udara dan darat yang melumpuhkan wilayah pinggiran selatan Beirut serta kota-kota strategis di Lebanon Selatan pada Jumat (27/03/2026).

Serangan udara terbaru menghantam kawasan Tahouitet Al-Ghadir tanpa peringatan, menewaskan dua warga sipil dan memicu kepulan asap hitam di atas benteng pertahanan Hizbullah yang kini sebagian besar telah ditinggalkan penduduknya.

Read More

Militer Israel menyatakan bahwa gelombang serangan ini secara spesifik menargetkan infrastruktur teror Hizbullah, sementara perintah evakuasi massal terus dikeluarkan untuk beberapa lingkungan di pinggiran ibu kota guna memperluas ruang operasi militer.

Tragedi kemanusiaan semakin mendalam di wilayah selatan dan timur Lebanon, di mana Kementerian Kesehatan melaporkan serangan di distrik Sidon menewaskan enam orang, termasuk tiga anak-anak, serta melukai belasan lainnya.

Di wilayah Bekaa, serangan udara Israel dilaporkan merenggut nyawa seorang wanita yang tengah mengandung anak kembar, menambah daftar panjang korban sipil yang kini telah melampaui angka seribu seratus jiwa sejak konflik pecah pada awal Maret.

Badan pengungsi PBB dan Komite Palang Merah Internasional secara serempak memperingatkan bahwa risiko bencana kemanusiaan nyata telah di depan mata, dengan lebih dari satu juta warga mengungsi dan ratusan ribu lainnya terpaksa bertahan di tempat penampungan kolektif yang sangat terbatas.

Di medan tempur darat, Hizbullah mengonfirmasi terjadinya bentrokan langsung dalam jarak dekat dengan pasukan infanteri Israel di desa pesisir Bayada dan Shamaa menggunakan senjata ringan serta menengah.

Kelompok yang didukung Iran tersebut juga mengeklaim telah meluncurkan rudal permukaan-ke-udara terhadap jet tempur Israel di langit Beirut sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi udara lawan.

Sementara itu, tentara Israel melaporkan penemuan gudang senjata dan rudal anti-tank di sebuah sekolah di kota perbatasan strategis Khiam, memperkuat klaim mereka bahwa Hizbullah menggunakan fasilitas sipil untuk keperluan militer.

Tujuan strategis Israel melalui invasi ini adalah menciptakan zona keamanan yang membentang hingga ke Sungai Litani, sekitar tiga puluh kilometer dari perbatasan, untuk melumpuhkan kapasitas operasional Hizbullah secara permanen.

Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, menegaskan bahwa jika pemerintah Lebanon gagal melucuti senjata Hizbullah, maka Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang akan melakukannya sendiri demi melindungi komunitas di utara Israel.

Di tengah gempuran yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, Presiden Lebanon Joseph Aoun mendesak perlindungan penuh bagi warga sipil, menekankan bahwa rakyat tidak bersalah kini tengah membayar harga tertinggi akibat perang yang dipicu oleh ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran tersebut.

Related posts